Sabtu, 26 Mei 2012

gizi balita

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kesehatan kesejahteraan manusia. Gizi seseorang dikatakan baik apabila terdapat keseimbangan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental orang tersebut. Tingkat status gizi optimal orang dewasa ditentukan pada zat gizi yang dikonsumsi pada masa kanak – kanak atau balita. ( Wiryo Hananto, 2002) Gizi pada balita dikatakan cukup apabila balita tersebut mendapatkan asupan ASI yang memadai karena ASI merupakan makanan ideal yang mengandung semua unsur gizi untuk membangun dan menyediakan energi dalam jumlah yang diperlukan sampai dengan usia 4 hingga 6 bulan (Wiryo Hananto,2002) Menurut WHO, anak tidaklah cukup hanya mendapatkan ASI saja, karena setelah usia 6 bulan anak membutuhkan MP – ASI yang tepat, baik jumlah maupun kualitasnya agar gizi tetap seimbang, karena hal tersebut dapat berpengaruh terhadap status gizi bayi. Makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B, serta vitamin dan mineral lainnya. Makanan pendamping air susu ibu ( MP – ASI) yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri dirumah. Kecendrungan pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah sering kali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan zat gizi balita karena ketidaktahuan. (http://www.kompas.co.id./30 Januari 2008 ) Lebih lanjut Supariasa,dkk (2002) mengemukakan bahwa masalah gizi pada hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor terkait. Di Indonesia masalah gizi khususnya pada balita menjadi masalah besar karena berkaitan erat dengan indikator kesehatan umum seperti tingginya angka kesakitan serta angka kematian bayi dan balita. Lebih jauh lagi, kerawanan gizi dapat mengancam kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Tak heran, menilik catatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indonesia masih berada pada peringkat 108 dari 177 negara di dunia. (Bina Diknakes,edisi maret 2008) Masalah gizi di Indonesia sampai dengan tahun 2008 ada sekitar 350 ribu dari 4 juta bayi lahir dengan berat badan rendah (BBRL) dan 5 juta dari 18 juta balita menderita gizi kurang.(Puskom Dirjen Depkes RI,2008) Masalah gizi di Indonesia dan negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh masalah Kurang Energi dan Protein (KEP), masalah Anemia Besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), masalah Kurang Vitamin A (KVA) selain itu di Indonesia masalah gizi khususnya pada balita menjadi masalah besar karena berkaitan erat dengan indikator masih tingginya angka kematian balita, utamanya setelah usia 6 bulan, karena pada usia 6 bulan persediaan zat besi yang tadinya terdapat dalam tubuh bayi yang cukup sudah mulai habis disebabkan oleh bertambahnya umur, berat badan bayi bertambah pula kebutuhannya, sehingga ASI tidak lagi menjadi makanan yang lengkap untuknya. Sekalipun masih hanya merupakan bagian yang berharga dalam diet bayi tersebut, pada usia inilah bayi telah siap dan memerlukan makanan pendamping ASI ( MP – ASI ), dalam memenuhi kebutuhan gizi bayi perlu juga diperhatikan waktu pemberian, frekuensi, porsi, pemilihan bahan makanan, cara pembuatan dan cara pemberian MP – ASI. (Depkes RI, 2005). Sehingga peranan orang tua sebaiknya memberikan perhatian khususnya tentang makanan anak. Interaksi tidak ditentukan oleh seberapa lama orang tua berinteraksi dengan anak, tetapi lebih ditentukan oleh kualitas diri interaksi tersebut yaitu pemahaman terhadap kebutuhan masing – masing dan upaya optimal untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi oleh rasa kasih sayang.( Supariasa, 2002 ). Di Propinsi Bengkulu sampai dengan akhir tahun 2007 tercatat jumlah penduduk sebanyak 1.753.761 jiwa dengan spesifikasi jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kota Bengkulu sebanyak 362.517 jiwa. Angka kejadian kasus gizi buruk di Propinsi Bengkulu tahun 2007 menunjukkan angka kasus sebanyak 39 anak balita.(Profil Kesehatan Dinkes Propinsi Bengkulu,2007). Kota Bengkulu mengadakan pemantauan status gizi pada balita dengan melakukan penimbangan terhadap 7298 balita antara usia 6-11 bulan sampai dengan 12-24 bulan. Dari balita yang rentang usianya 6-11 bulan terdapat 4 orang bayi atau 0,05% berada pada status gizi buruk, usia 12-24 bulan terdapat 10 orang bayi atau 0,13% berada pada status gizi buruk, sementara status gizi balita usia 6-11 bulan dalam kategori kurang didapat sejumlah 92 orang balita atau 1,26 %, untuk usia bayi 12-24 bulan terdapat 171 balita atau 2,34%, untuk kategori gizi baik di usia 6-11 bulan pada status gizi baik terdapat 2453 orang balita atau 33,63% dan 12-24 bulan terdapat 4349 orang balita atau 59,60% sementara 121 orang balita di usia 6-11 bulan yang berstatus gizi lebih atau 1,65% dan 98 orang anak balita usia 12-24 bulan yang terindikasi gizi lebih atau 1,34% (Dinkes Kota Bengkulu, 2007). Sementara untuk tahun 2007/2008 Puskesmas Sukamerindu melakukan penimbangan anak balita sebanyak 1612 anak balita dengan kejadian gizi buruk tidak diketemukan sementara status gizi kurang sebanyak 85 orang anak balitadan merupakan kasus tertinggi dari sejumlah wilayah Puskesmas di Kota Bengkulu, sementara gizi baik sebanyak 1364 orang dan status gizi lebih sebanyak 163 orang anak balita (Puskesmas Sukamerindu,2008) Peran aktif seorang ibu sangat dibutuhkan terutama dalam pencegahan terjadinya gangguan masalah gizi dengan cara memberikan makanan yang tepat sesuai usia dan kebutuhan bayi, semua itu ditentukan oleh motivasi dari dalam diri ibu itu sendiri agar anak tumbuh sehat. Motivasi itu sendiri merupakan tenaga penggerak dan kadang – kadang dilakukan dengan menyampingkan hal – hal yang kurang bermanfaat dalam mencapai tujuan. (Heri Purwanto, 1998) Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif dibandingkan dengan motivasi yang dipaksakan dari luar, karena kepuasan yang diperoleh oleh individu sesuai dengan porsi atau ukuran terdapat dalam diri individu itu sendiri (Winataputra dan Tita Rosita, 1995), oleh karena itu faktor motivasi instrinsik ibu sangat dibutuhkan dalam menentukan gizi pada bayi, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran faktor faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu 2008“. B. Rumusan Masalah Belum diketahui motivasi intrinsik ibu maka dengan penelitian ini ingin diketahui bagaimanakah faktor-faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu 2008. C. Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor motivasi ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) pada bayi. b. Tujuan Khusus • Untuk mengetahui gambaran faktor- faktor kebutuhan pada ibu dalam memberikan MP – ASI. • Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor pengetahuan pada ibu dalam pemberian MP – ASI. D. Manfaat Penelitian • Bagi Puskesmas Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya menangani masalah gangguan gizi. • Bagi institusi pendidikan Dapat memberikan informasi tentang MP-ASI dan status gizi bayi diwilayah Puskesmas Sukamerindu pada pendidikan Akper Sapta Bakti. • Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada peneliti yang akan datang. E. Keaslian Penelitian Berdasarkan literatur dan tinjauan kepustakaan yang dilakukan oleh peneliti, maka penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mengangkat kasus tentang motivasi yang berhubungan langsung dengan status gizi anak balita. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Definisi Motivasi Heri Purwanto (1998), mengungkapkan bahwa motivasi merupakan dorongan untuk bertidak untuk mencapai suatu tujuan juga terwujud dalam bentuk prilaku. Menurut Widayatun (1998), motivasi merupakan tenaga penggerak dan kadang-kadang dilakukan dengan penyampingan hal-hal yang dianggap kurang bermanfaat dalam mencapai tujuan. Sementara menurut Asnawi (2002) motivasi adalah pendorong seseorang dalam berprilaku dan beraktifitas dalam mencapai tujuan. B. Bentuk – Bentuk Motivasi 1. Motivasi instrinsik atau motivasi yang datangnya dari dalam diri individu itu sendiri yang tidak perlu dirangsang dari luar. 2. Motivasi ekstrinsik atau motivasi yang datang dari luar individu dan berfungsi setelah ada rangsangan dari luar.( Widayatun, 1998 ) C. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi a. Faktor Instrinsik Motivasi yang berasal dari dalam diri manusia biasanya timbul dari perilaku yang dapat memenuhi kebutuhan sehingga manusia menjadi puas. Adapun faktor – faktor dari diri manusia : a. Kebutuhan ( Needs ) Teori Maslow menyatakan kebutuhan manusia yang berjenjang atau bertingkat. Tingkat – tingkat memperlihatkan urutan kebutuhan yang harus terpenuhi dalam waktu tertentu. Suatu daya dorong atau motive tidak akan dapat mempengaruhi tindakan seseorang, bilamana kebutuhan dasar belum terpenuhi. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, maka kebutuhan yang satu dengan kebutuhan yang lain saling mempengaruhi. Tingkatan tersebut disebut dalam lima jenjang kebutuhan manusia. (Pengantar Psikologi, 1999). Teori Maslow tentang kebuthan manusia ini akan mempengaruhi dorongan atau justru dapat dikatakan bahwa urutan lajunya kebuthan manusia sama dengan berlanjutnya ke dalam jenjang motivasi seseorang. Motivasi sama dengan kebutuhan biasanya munculnya berurut N1, N2, N3, N4, N5 dan seterusnya. Motivasi sebagai motor penggerak maka bahan bakarnya adalah kebutuhan itu sendiri. ( Pengantar Psikologi, 1983 ) b. Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan satu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa dan raba. ( Notoatmodjo, 1993 ) Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan : a) Tahu ( know ) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( recall ) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah. b) Memahami ( komprehension ) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. c) Aplikasi ( aplication ) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajarai pada situasi atau kondisi real ( sebenarnya ). d) Analisis ( analysis ) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen – komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e) Sintesis ( synthesis ) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sisntesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada. f) Evaluasi ( evaluation ) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justificasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian – penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada. 3. Faktor Ekstrinsik Motivasi yang berasal dari luar yang merupakan pengaruh orang atau lingkungan. Motivasi ini penuh dengan kekhawatiran, kesangsian apabila tidak mencapai kebutuhan. Faktor – faktor dari luar manusia : a. Sarana / Fasilitas Fasilitas adalah sarana untuk melancarkan fungsi kemunduran. sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai serbagai alat dalam pencapaian maksud dan tujuan. (Depdikbud,1999) b. Imbalan Imbalan merupakan upah sebagai jasa (honorarium) atau balasan (berupa pujian, dan sebagainya) atas tindakan yang telah dilakukan. (Depdikbud, 1999 ) c. Sosial dan Budaya Manusia merupakan makhluk biopsikososial kulturul dan spiritual. Manusia sebagai mahluk sosial dikatakan bahwa sejak lahir manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, saling membutuhkan dan saling ketergantungan, perlu sosialisasi, bergaul dan bekerjasama dengan manusia lain dalam lingkungannya. Sebagai manusia kultural bahwa manusia lahir, belajar serta berkembang dengan lingkungannya ia menganut dan membentuk budaya sesuai dengan budaya setempat. (Depdikbud, 1999) D. Proses Terjadinya Motivasi Motivasi ada atau terjadi karena adanya kebutuhan seseorang yang harus di penuhi untuk beraktifitas segera mencapai tujuan. Motivasi sebagai motor penggerak maka bahan bakarnya adalah kebutuhan atau need, terjadinya motivasi sesuai urutan yang harus dipenuhi. Faktor-faktor Rumusan Formula Teori Lingkungan ( Widayatun, 1999 ) E. Fungsi Motivasi a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. b. Menentukan arah perbuatan yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan. c. Menyeleksi perbuatan – perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan – perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. F. Definisi ASI Air susu ibu (ASI) merupakan makanan yang paling cocok untuk bayi serta memnpunyai nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat manusia atau susu hewan terutama pada bulan – bulan pertama. Sebab ASI mengandung semua gizi yang dibutuhkan untuk membangun dan menyediakan energi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal. (Supariasa, 2001). ASI suatu emulsi lemak dalam larutan protein lactase dan garam – garam organik yang disekresi oleh kedua buah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama pada bayi. Selain itu ASI juga dapat mempercepat jalinan kasih sayang antara ibu dan anak, yang penting untuk perkembangan mental dan kecerdasan anak. ASI yang pertama keluar disebut kolostrum yang mengandung zat kekebalan tubuh, vitamin A yang tinggi dan sangat baik untuk bayi. Pemberian ASI eksklusif yaitu bayi hanya diberi minum saja tanpa tambahan makanan lain diberikan sampai bayi usia 4 bulan, pemberian makanan selain ASI pada usia 0 – 4 bulan dapat membahayakan bayi karena bayi belum mampu memproduksi enzim untuk mencerna makanan selain ASI. G. Komposisi ASI a. Mengandung protein dan lemak yang paling cocok dalam jumlah yang tepat. b. Mengandung lebih banyak laktosa ( gula susu ) daripada susu lain. c. Mengandung vitamin yang cukup untuk bayi selama 6 bulan serta tidak memerlukan tambahan vitamin. d. Mengandung zat besi. Bayi yang disusui dengan baik tidak akan mengalami anemia. e. Mengandung air bagi pada iklim yang panas. f. Mengandung garam, dan fosfat dalam jumlah yang tepat Tabel 2.1. Komposisi Kolostrum dan Susu Komponen Kolostrum Susu Manusia Susu Sapi Air, gr Laktosa, gr Protein, gr Nisbah Laktat / Bumin Koserin Lemak, gr Asam Linoleat Na, mg K, mg Cl, mg Ca, mg Fosfor, mg Besi, mg Vitamin A, μg Vitamin D, μg Tiamin, μg Riboflavin, μg Asam Nikotinat, μg Asam Askorbat, μg Magnesium, mg - 5,3 2,7 - 2,9 - 92 55 117 31 14 0,09 89 - 15 30 75 44 4 8 6,8 1,2 1,2 3,8 83% lemak 15 55 43 33 15 0,15 53 0,03 16 43 172 4,3 4 88 5,0 3,3 3,1 3,7 1,6% lemak 58 13,8 103 125 100 0,10 34 0,06 42 157 85 1,6 12 ( Fisiologi Kedokteran, William F. Ganong, Edisi 17, Jakarta EGC, 1998 ) H. Definisi ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan pada bayi saat berumur 0 – 4 bulan. ASI eksklusif ini mengandung zat – zat yang sangat diperlukan bayi utnuk mendapatkan kekebalan tubuh. Terutama saat pertama kali ibu memberikan ASI yang mengandung kolostrum. (Dinkes Kota, 2008) Beberapa alasan pemberian ASI ekslusif, yaitu : a. Mudah dicerna b. Mengandung zat gizi yang berkualitas tinggi berguna untuk kecerdasan dan pertumbuhan. c. Mengandung zat kekebalan melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. d. Selalu aman dan bersih. e. Tidak pernah basi. f. Mempunyai suhu yang tepat, dapat langsung diminum. g. Menghindari bayi dari alergi dan infeksi. I. Definisi MP – ASI Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi / anak disamping ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya selain ASI setelah berumur 4 bulan. (Depkes RI, 2002) Pada umur 4 – 6 bulan bayi terus minum ASI dan mulai diperkenalkan pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI). MP – ASI berbentuk lumat atau setengah cair dan yang paling penting adalah berikan ASI dulu sebelum pemberian MP – ASI. Pada umur 6 – 9 bulan, kualitas makanan pendamping ASI perlu diperhatikan sesuai dengan umur bayi minimal 3 kali sehari. Porsi MP – ASI setiap kali makan adalah sebagai berikut : a. Pada umur 6 bulan, berikan minimal 6 sendok makan. b. Pada umur 7 bulan, berikan minimal 7 sendok. c. Pada umur 8 – 9 bulan, berikan minimal 8 – 9 sendok. Sejak umur 10 bulan makanan keluarga perlu diperkenalkan pada bayi agar pada umur 12 bulan bayi dapat makan bersama keluarga. Pemberian ASI tetap diberikan sampai berumur 2 tahun, makanan selingan yang bergizi ( bubur, kacang hijau, biscuit, pepaya / jeruk) juga perlu diberikan. J. Jenis – Jenis MP – ASI Umur 4 – 6 Bulan Bayi tetap terus diberi ASI dan mulai diperkenalkan dengan makanan pandamping ASI (MP – ASI) berbentuk makanan lumat atau setengah cair misalnya bubur saring, pisang, sari buah, sebaiknya ASI diberikan sebelum pemberian MP – ASI. Cara membuat makanan lumat : a. Bahan : 1) Dua sendok makan tepung beras (20 gr) 2) Dua sendok the gula pasir (10 gr) 3) Satu gelas susu segar atau dua sendok makan penuh susu bubuk yang telah dilarutkan kedalam satu gelas air. b. Cara membuat : 1) Tepung beras dan gula pasir dilarutkan kedalam susu. 2) Masak diatas api kecil, aduk terus menerus sampai matang. Umur 6 – 9 Bulan Bayi harus tetap terus diberi ASI dan diselingi dengan buah / sari buah. MP –ASI diberikan dalam bentuk lumat sekurang – kurangnya 3 kali sehari. Cara membuat bubur lembik (bubur kering) : a. Bahan : 1) Dua sendok makan peres beras. 2) Satu potong tempe atau tahu / kacang – kacangan / ikan / telur. 3) Sepuluh lembar daun bayam atau sayuran hijau lain 4) 2 – 3 gelas air. 5) 1 sendok makan b. Cara membuatnya : 1) Masukkan air yang telah dicampur minyak goreng atau air yang telah dicampur santan kedalam paci berisi beras, tahu / tempe / lauk pauk lain. 2) Masaklah bahan sambil diaduk sampai matang. 3) Masukkan daun bayam atau daun kangkung atau sayuran hijau lain yang telah diiris halus. 4) Setelah sayuran matang, angkat dari api. 5) Makanan siap diberikan kepada bayi. 6) Nasi tim dapat diberikan dalam bentuk lunak atau saring dan lunak atau lembik. Umur 9 – 12 Bulan Bayi terus diberi ASI sebelum MP - ASI diberikan. MP - ASI diberikan dalam bentuk lembik sekurang – kurangnya 3 kali sehari. Beri makanan selingan bergizi 1 – 2 kali sehari seperti kue bolu pandan, kue lapis, biscuit, beri buah – buahan, sari buah. Cara membuat sari buah : a. Bahan : 1 Buah jeruk manis b. Cara membuatnya : 1) Buah di cuci bersih 2) Jeruk belah dua, biji dibuang. 3) Peras airnya. 4) Taruh dalam cangkir atau mangkok kecil. 5) Berikan kepada bayi dengan menggunakan sendok kecil. Tabel 2.2. Pola Jenis Makanan Balita Umur ( Bulan ) Jenis Makanan ASI Makanan Lumat Makanan Lembik Makanan Keluarga 0 – 4 4 – 6 6 – 12 12 – 14 24 keatas K. Resiko Pemberian MP – ASI Telah diketahui umum pada saat ini bahwa bayi belum siap untuk menerima makanan semi padat sebelum berusia 4 bulan, dan juga makanan itu belum dirasakan perlu sepanjang bayi tetap mendapat ASI, kecuali pada keadaan tertentu. Kerugian atau resiko yang ditemukan segera jika bayi diberikan makanan pelengkap terlalu dini, dan ada kemungkinan terjadi dampak yang tidak diinginkan dalam jangka panjangtermasuk perannya dalam proses terjadinya keadaan patologis seperti : obesitas, hipertensi, arteriosclerosis dan alergi makanan dicurigai akan terjadi meskipun itu sangat sukar untuk dibuktikan. a. Resiko jangka pendek Telah dibuktikan bahwa pengenalan makanan selain ASI kepada diit bayi akan menurunkan frekuensi dan intensitas penyuapan bayi, yang merupakan suatu resiko terjadinya penurunan produksi ASI. Dalam kondisi seperti ini makanan yang diberikan tidak akan berperan sebagai makanan pelengkap terhadap ASI, tetapi sebagai pengganti sebagian ASI. Apabila diingat hampir semua makanan pelengkap yang diberikan mempunyai nilai gizi yang lebih rendah dari ASI, hal ini akan merugikan bayi, dan hasil yang diinginkan menjadi sebaliknya. Berdasarkan hasil observasi bahwa pengenalan serelia dan sayur – sayuran dapat mempengaruhi penyerapan zat besi dari ASI, walaupun konsentrasi zat besi itu rendah dalam ASI, tetapi lebih mudah diserap oleh tubuh bayi karena keseimbangan zat besi sangat rawan pada bayi muda. Pemberian makanan tersebut dapat menyebabkan defisiensi zat besi dan anemia. Keadaan ini sebenarnya dapat dicegah jika menggunakan bahan makanan serelia yang telah ditambahkan kandungan zat besinya. Hal ini hanya dapat mengatasi satu masalah tetapi sebenarnya tidak. b. Resiko jangka panjang Pemberian makanan tambahan yang kurang memadai dapat pula memberikan dampak negative terhadap kesehatan dalam jangka panjang, yaitu : perubahan yang dianggapsebagai penyebab sudah terjadi pada usia awal kehidupan tetapi dapat mempengaruhi terjadinya gangguan secara kronis yang dapat diketahui beberapa tahun yang akan datang. Kemudian kebiasaan makan yang mengutamakan kenyang akan berdampak terjadinya suatu gangguan kesehatan. ( A. James, 1998 ) L. Kebutuhan Gizi Kebutuhan gizi berkaitan dengan proses tubuh. a. Memberi energi Zat – zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak dan protein. Ketiga zat gizi itu termasuk termasuk ikatan organic yang mengandung karbon yang dapat dibakar. Ketiga zat gizi terdapat dalam jumlah terbanyak dalam bahan pangan. Dalam fungsi sebagai zat pemberi energi. Ketiga zat gizi tersebut dinamakan zat pembakar. b. Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh Protein, mineral dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu, diperlukan untuk membentuk sel – sel baru, memelihara, dan mengganti sel – sel yang rusak. Dalam fungsi ini ketiga zat gizi tersebut dinamakan zat pembangun. c. Mengatur proses tubuh Protein, mineral, air dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Protein mengatur keseimbangan air di dalam sel. Mineral dan vitamin diperlukan sebagai pengatur dalam proses – proses oksidasi. Fungsi normal, syaraf dan otot serta banyak proses lain yang terdapat di dalam tubuh. Dalam fungsi pengaturan proses tubuh ini, protein, mineral air dan vitamin dinamakan zat pengatur. M. Akibat Gangguan Gizi Terhadap Fungsi Tubuh a. Faktor primer Adalah bila susunan makanan seseorang salah dalam kuantitas atau kualitas yang disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya ditribusi pangan, ketidak tahuan, kebiasaan makan yang salah dan sebagainya. b. Faktor Sekunder Meliputi semua faktor yang menyebabkan zat – zat gizi tidak sampai di sel – sel tubuh setelah makanan dikonsumsi. N. Akibat gizi kurang pada proses tubuh a. Pertumbuhan Anak – anak tidak tumbuh menurut potensialnya. Protein digunakan sebagai zat pembakar, sehingga otot – otot menjadi lembik dan rambut mudah rontok b. Produksi Tenaga Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan anak kekugangan tenaga untuk bergerak, bekerja dan melakukan aktivitas. Anak menjadi malas dan merasa lemah. c. Pertahanan Tubuh Sistem imunitas dan anti bodi berkurang sehingga anak mudah terserang infeksi seperti batuk pilek dan diare. Pada anak – anak hal ini dapat membawa kematian. d. Struktur dan Fungsi Otak Otak mencapai bentuk maksimal pada usia 2 tahun. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen e. Perilaku Baik anak – anak maupun orang dewasa yang kurang gizi menunjukkan perilaku tidak tenang, mereka mudah tersinggung, cengeng dan apatis (Sunita Almatsier, 2002) BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.Desain Penelitian Desain dalam penelitian ini menggunakan jenis survey yaitu dengan cara analisa deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan untuk membuat penelitian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaraan suatu program dimana sekarang, kemudian hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut. (Notoatmodjo, 2002). Penelitian ini untuk mengetahui gambaran faktor-faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI). B. Kerangka Konsep Keterangan : : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti (Notoatmodjo, 2002) C. Defenisi Operasional Faktor-faktor motivasi intrinsik adalah suatu dorongan yang ada dalam diri ibu untuk memberikan makanan pendamping ASI (MP–ASI) untuk memenuhi kepuasan dan kebutuhan ibu dan bayi. No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur 1 Kebutuhan Adalah suatu keinginan dari ibu untuk memberikan kepuasan serta kasih sayang dengan tindakan memberikan makanan pendamping asi (MP–ASI) sesuai dengan kebutuhan dan keadaan bayi. Kuisioner ( 1 – 8 ) Tinggi ≥ 75 % jawaban responden benar. Sedang ≥ 56 % - 75 % jawaban responden benar. Kurang≤ 56 % jawaban responden benar. 0 : Salah 1 : Benar Ordinal 2 Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu tentang (MP–ASI) untuk bayi. Kuisioner ( 9 – 16 ) Tinggi ≥ 75 % jawaban responden benar. Sedang ≥ 56 % - 75 % jawaban responden benar. Kurang≤ 56 % jawaban responden benar. 0 : Salah 1 : Benar Ordinal D. Populasi dan Sampel a. Populasi Adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. (Notoatmodjo, 2002). Yang menjadi sasaran populasi dalam penelitian ini adalah ibu – ibu yang mempunyai bayi berusia dibawah 1 tahun di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2008, dengan jumlah ibu yang memiliki bayi 615 orang. b. Sampel Untuk menentukan populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000 dapat menggunakan formula yang lebih sederhana lagi seperti : n = N 1 + N (d)2 Keterangan : N : Besar populasi n : Besar sample d : Tingkat kepercayaan yang diinginkan 0,05 (notoatmojo,1993) Dari rumus diatas didapat bahwa jumlah sampel sebanyak 243 orang. Cara pengambilan sample yaitu dengan teknik simple random sampling yang berarti jumlah populasi lebih kecil dari 10.000 dapat menggunakan formula yangdisebut diatas. Dengan kriteria sampel : a. Ibu – ibu yang bisa baca tulis b. Ibu – ibu yang bertempat tingggal di wilayah kerja Puskesmas . c. Bersedia menjadi responden. d. Bersedia mengisi kuesioner. E. Tempat dan Waktu Tempat : wilayah kerja Puskesmas Suka Merindu Kota Bengkulu Waktu : 21 Juni sampai dengan 5 Juli 2008. F. Metode Pengumpulan Data Data dikumpulkan dengan kuisioner dimana jawabannya sudah tersedia dengan jumlah 16 pertanyaan dengan jawaban pilihan 4 buah ( A, B , C dan D ) dengan penilaian : 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah. G. Pengolahan dan Analisa Data a. Pengolahan Data Data yang terkumpul diolah dengan langkah – langkah pengolahan data sebagai berikut : 1. Editing Data Data yang telah dikumpulkan diperiksa segera mungkin yang mencakup : kelengkapan, kejelasan, relevansi, konsistensi jawaban. 2. Coding Memberikan kode dengan angka yang telah ditetapkan sebelumnya dan mengisi kotak – kotak yang tersedia dengan kode tersebut. 3. Recoding Melakukan kode ulang pada jawaban yang belum dikelompokkan menjadi kategori tertentu untuk memudahkan dalam analisis lebih lanjut. 4. Data Entry Memindahkan data yang telah lengkap ke komputer kedalam formulir isian yang telah disiapkan. 5. Checking dan Cleaning Data Dilakukan untuk melihat kualitas dan konsistensi jawaban. Bila ditemukan adanya jawaban yang tidak konsisten dengan pertanyaan sebelumnya maka dilakukan perbaikan seperlunya. 6. Tabulating ( Tabulasi ) Adapun langkah – langkah yang peneliti lakukan adalah : a) Menjumlahkan setiap kuisioner pada setiap alternative jawaban. b) Menghitung persentase hasil kuisioner untuk setiap alternative dengan rumus sebagai berikut : P = F X 100 % n Keterangan : P : Proporsi / jumlah persentase F : Jumlah responden setiap kategori n : Jumlah sampel ( Arikunto, 1996 ) b. Analisa Data Analisa univariat adalah menggunakan statistik deskriftif seperti ukuran tengah (mean, median, modus) dan menggambarkan faktor –faktor motivasi intrinsik ibu dalam pemberian MP – ASI di wilayah kerja Puskesmas Suka merindu tahun 2008. Untuk melihat gambaran faktor – faktor motivasi instrinsik yang mempengaruhi ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI (MP – ASI). ∑st P = x 100 % Nr x ∑Sm ( Arikunto, 1995) Keterangan : P : Jumlah persentase Nr : Jumlah responden ∑ st : Jumlah skor total pertanyaan seluruh responden ∑ Sm : Jumlah nilai maksimum pertanyaan Setelah ada di tabulasi, selanjutnya data yang bersifat kuratif dikoreksi menjadi data kualitatif (Arikunto,1995) sebagai berikut : a. Tinggi, jika > 75 % jawaban responden benar (6-8jawaban benar) b. Sedang, jika ≥ 56 – 75 % jawaban responden benar (5 jawaban benar) c. Kurang, jika ≤ 56 % jawaban responden benar (1-4 jawaban benar) BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Gambaran Wilayah Penelitian Puskesmas Suka merindu terletak lebih kurang 1 km dari pusat kota dengan luas wilayah 9025 Km² dan jumlah penduduk 13.579 jiwa. Puskesmas Sukamerindu memiliki 25 orang tenaga petugas,antara lain 3 orang dokter umum, 1 dokter gigi, 1orang perawat giai, 3 orang bidan, 10 orang perawat, 2 orang staf tata usaha, 2 orang petugas laboratorium,1 orang petugas sanitasi dan 2 orang perawat honorer yang tersebar di setiap unit kerja Puskesmas dan mempunyai 615 jumlah bayi usia 0-1 tahun dari 14 posyandu wilayah kerja Puskesmas Suka Merindu yaitu: kembang intan, mawar, seroja, singa jaya, tiara dita, anggrek, flamboyant, sedap malam, brimob, kenangan, kemuning, delima, kembang tanjung dan nusa indah. Program pokok Puskesmas Sukamerindu antara lain, Gizi, KIA, Promkes, Kesling, P2M, Pengobatan, Jamininan Pemeliharaan Kesehatan, serta Asuransi kesehatan gratis. 2. Karakteristik Responden a. Gambaran Distribusi Responden Berdasarkan Umur Berdasarkan hasil penelitian di 14 Posyandu wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu di ketahui bahwa hampir sebagian 120 (49,60%) responden berumur 20-25 tahun, serta sebagian kecil (1,30%) rsponden berusia > 40 tahun. 2. Gambaran Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hampir sebagian responden 97 berpendidikan SD (40,00%), dan sebagian kecil (16,28%) responden yang tamat perguruan tinggi. 3. Gambaran Responden Berdasarkan Tingkat Pekerjaan Ibu Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hampir sebagian 97 (40,00%) responden bekerja sebagai IRT, dan sebagian kecil (5,87%) responden sebagai PNS 4. Gambaran Responden Berdasarkan Usia Balita Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hampir sebagian 83 (43,38%) responden berusia 5 – 8 bulan, hampir sebagian (22,33%) responden berusia 9-12 bulan dan hampir sebagian (34,29 %) responden berusia 0-4 bulan dari 243 jumlah seluruh responden. 5. Gambaran Responden Menurut Kebutuhan ibu Dalam Pemberian MP-ASI. Tabel .1 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Kebutuhan Ibu Dalam Pemberian Makanan Pendamping ASI ( MP – ASI) Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Tahun 2008. No Kriteria Frekuensi Persentase 1 Tinggi 95 39,25 2 Sedang 122 50,41 3 Kurang 25 10,34 Total 242 100 Dari tabel di atas diketahui bahwa faktor motivasi instrinsik kebutuhan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) termasuk dalam tingkat sedang dengan 50,41 % responden (sebagian besar responden mempunyai kebutuhan yang sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI)) yaitu 122 responden, 39,25% responden (sebagian kecil responden mempunyai kebutuhan tinggi dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI)) yaitu 95 responden dan 10,34% responden (sebagian kecil mempunyai kebutuhan yang kurang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI)) yaitu 25 responden dari 242 jumlah seluruh responden. 6. Gambaran Responden Menurut Pengetahuan Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Tabel 2 Distribusi frekuensi Responden Menurut Pengetahuan Ibu Dalam Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP–ASI) Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Tahun 2008 No Kriteria Frekuensi Persentase 1 Tinggi 27 11,15 2 Sedang 120 50,00 3 Kurang 95 38,85 Total 242 100 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) pada tingkat sedang dengan 50,00% responden (sebagian besar responden mempunyai pengetahuan sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 120 responden), 38.85% responden (hampir sebagian responden mempuyai pengtehuan kurang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 95 responden), 9.82% responden (sebagian kecil responden mempuyai pengetahuan tinggi dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 27 responden) dari 243 jumlah seluruh responden. Dari semua hasil penelitian di atas, yaitu dengan cara menjumlahkan semua hasil dari kebutuhan dan pengetahuan, diketahui bagaimana fsaktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) di wilayah kerja puskesmas sukamerindu tahun 2008 adalah : P = Σ ST ×100% Nr × ΣSm P = 2581 ×100% 242 × 16 P = 66,65% Keterangan : Nilai Σ ST diperoleh dari tabel master, yaitu hasil dari penjumlahan kebutuhan dan pengetahuan. Nr : Jumlah responden Σ Sm : Jumlah pertanyaan dari kuisioner Dari hasil di atas diketahui bahwa Faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI) pada balita diwilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008 termasuk sedang, yaitu 66,65%. B.PEMBAHASAN a. Pembahasan dari hasil penelitian. 1. Kebutuhan Kebutuhan merupakan hal yang sangat mendasar bagi seseorang untuk berbuat, tanpa ada faktor kebutuhan yang baik maka akan sulit bagi seseorang mengimplementasikan sesuatu yang bukan merupakan kebutuhannya. (Purwanto, 1998). Dari penelitian tentang faktor motivasi ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) di wilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008, menunjukan sebagian besar responden mempunyai faktor kebutuhan yang sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 50,41% (122 responden), sebagian kecil responden mempunyai kebutuhan tinggi dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 39,25% (95 responden), sebagian kecil mempunyai faktor kebutuhan yang kurang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 10,34% (25 responden). Menurut Maslow kebutuhan manusia merupakan pendorong atau bahan bakar seseorang melakukan sesuatu. 2.Pengetahuan Faktor pengetahuan pada hakekatnya apa yang diketahui manusia tentang objek tertentu termasuk didalamnya tentang ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui berbagai cara, baik langsung maupun tidak langsung. (Notoatmodjo, 1993). Pengetahuan merupakan salah satu faktor motivasi instrinsik yang mendorong ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) di wilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008. Dari hasil penelitian tentang pengetahuan sebagian besar responden mempunyai pengetahuan sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 50,00% (120 responden), hampir sebagian responden mempuyai pengtehuan kurang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 38,85% (95 responden), sebagian kecil responden mempunyai pengtehuan tinggi dalam emberian makanan pendamping ASI (MP – ASI) yaitu 9,82% (27 responden) dari 242jumlah seluruh responden. Hal ini diperkuat oleh usia responden yang masih produktif yaitu hampir sebagian (49,60esponden berumur 20-25 tahun, namun demikian hampir sebagian (33,00esponden berumur 26-30, sebagian kecil (9,10 responden berumur 31-35 tahun, dan (7,00 %) responden berusia 36-40 tahun.Serta sebahagian kecil (1,30 %) responden berusia > 40 tahun. Selain kriteria kurang hampir sebagian responden memiliki pengetahuan sedang karena hampir sebagian responden berpendidikan SD (40,00%) dimana responden belum sepenuhnya mendapatkan pendidikan/pengetahuan mengenai tujuan, dan pemberian makanan pendamping ASI, namun hampir sebagian (22,72%)responden berpendidikan SLTP, dan hampir sebagian (21,00%)responden berpendendidikan SLTA serta hanya sebagian kecil (16,28%)responden yang tamat perguruan tinggi. Dilihat dari pekerjaan responden hampir sebagian (40,00%) responden bekerja sebagai IRT,dimana responden dapat memperhatikan dengan baik akan kebutuhan bayinya, hampir sebagian (29,75%) pekerjaan responden sebagai buruhi, dan sebagian kecil (24,38%) responden bekerja dibidang swasta dan sebagian kecil (5,87%) responden sebagai PNS. Di lihat dari karakteristik umur balita hampir sebagian (43.38%) responden berumur 5 – 8 bulan, hampir sebagian (22.33%) responden berumur 9 - 12 bulan dimana pada usia ini ASI tidak lagi mencukupi untuk makanan balita maka dibutuhkan makanan pendamping ASI dan hampir sebagian ( 34,29% ), responden berumur 0 - 4 bulan. Dari hasil penelitian dua variabel diatas diketahui bahwa faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) adalah sebagai berikut : kebutuhan dengan kriteria sedang (50,41%) dan pengetahuan dengan kriteria sedang (50,00%). Dapat dilihat bahwa antara pengetahuan dan kebutruhan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) diwilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008 saling mempengaruhi, jika pengetahuan seseorang itu baik maka sikap seseorang untuk memenuhi kebutuhannya juga akan baik . Kebutuhan dan pengetahuan ini sangat dipengaruhi oleh pekerjaan dan umur responden untuk mencapai hasil dan tujuan. Kebutuhan dan pengetahuan yang bersifat dinamis sesuai dengan keinginan dan perhatian manusia terhadap sesuatu dalam diri individu yang harus direspon untuk dipenuhi, sehingga individu berusaha untuk memenuhinya. Melihat fenomena diatas antara pengetahuan dan kebutuhan berbanding lurus dengan sebuah teori pengetahuan mempengaruhi kebutuhan seseorang. (Widayatun, 1999). Dan penelitian ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Dedi Sutomi yang menyatakan bahwa dalam pemberian makanan pendamping ASI juga dipengaruhi oleh faktor pendidikan ibu. Setelah semua hasil penelitian dengan faktor-faktor motivasi instrinssik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) diwilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008 termasuk sedang (66,65%). Dimana kriteria sedang ini termasuk masih sangat rendah karena belum mencapai 75%. Terjadinya hal ini mungkin karena alat ukur dan metode yang digunakan belum tepat serta jumlah responden yang belum memadai. b. Keterbatasan Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat faktor-faktor tentang suatu keadaan secara objektif dan lebih menekankan pada data faktual dari pada penyimpulan. Penelitian dengan cara deskriptif ini tidak mencoba untuk menganalisa bagaimana dan mengapa fenomena tersebut bisa terjadi, dan tidak dapat diketahui hubungan antar variabel maupun faktor resikonya. Populasi yang diambil adalah seluruh ibu –ibu yang mempunyai bayi yang berusia dibawah 1 tahun, sedangkan pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling. Adapun kelemahan yang ada pada metode ini yaitu dalam pengambilan sampel ini individu yang terpilih mungkin sangat tersebar, dan karena peneliti mengambil sampel pada saat posyandu, mungkin banayak sampel yang tidak datang pada saat posyandu. Alat ukur yang digunakan yaitu menggunakan lembar kuesioner yang diisi oleh responden sendiri sehingga tidak dipantau oleh peneliti, dimana kuesioner ini juga belum diuji validitas dan reliabilitasnya BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan dengan mengumpulkan data melalui pertanyaan dalam bentuk kuesioner terdapat faktor-faktor faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberikan makanan pendamping ASI (MP – ASI) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu tahun 2008 dengan kesimpulan sebagai berikut : a. Dilihat dari hasil semua jawaban seluruh responden dalam menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan faktor motivasi instrinsik kebutuhan termasuk dalam kriteria sedang yaitu 50,41% (122 responden). Sebagian besar reponden mempunyai kebutuhan tinggi dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI). b. Dari hasil seluruh jawaban responden mengenai faktor motivasi instrinsik pengetahuan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) pada balita dengan kriteria sedang yaitu 50,00% (120 responden ). Sebagian besar ibu mempunyai pengetahuan yang sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) B.Saran a. Bagi Puskesmas Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai program upaya dalam menangani masalah gangguan gizi, oleh karena itu lebih disosialisasikan program – program pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI). b. Bagi Akademik Diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi ilmiah yang bermanfaat c. Bagi Peneliti lain Bagi peneliti lain yang akan meneliti mengenai topik yang sama perlu melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh pemberian makanan pendamping ASI pada balita yang lebih berkualitas sesuai dengan perkembangan ilmu sekarang. Sehingga nanti diharapkan ada penemuan baru yang berhubungan dengan pemberian makanan pendamping ASI dengan menggunakan metode lain . DAFTAR PUSTAKA Arikunto. (1996). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. . (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. A, James (1994). Pemberian Makanan Untuk Bayi : Dasar – Dasar Fisiologis. Jakarta: Perinasia. Asnawi,Sahlan. ( 2002 ).Teori Motivasi. Jakarta: Studra Press Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu. (2005). Profil Kesehatan Propinsi Bengkulu. Dinkes Bengkulu. Notoatmodjo. (1993). Pengantar Pendidikan Kesehatan Dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Andi Offset. . (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rhineka Cipta. Purwanto, Heri. (1998). Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC. Supariasa, I Dewa Nyoman, (2001). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC. Widayatun, TS. (1999). Ilmu Perilaku (M.A. 104 ). Jakarta: Fajar Interpratama Winata, U dan Tuti Rosita. (1995). Materi Pokok Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.

Senin, 21 Mei 2012

anatesi

A. Anestesi Umum 1. Jenis obat anestesi umum. Umumnya obat anestesi umum diberikan secara inhalasi atau suntikan intravena. 1. Anestetik Inhalasi Nitrogen aksida yan stabil pada tekanan dan suhu kamar merupakan salah satu anestetik gas yang banyak dipakai karena dapat digunakan dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya. Halotan, enfluran, isofluran, desfluran dan metoksifluran merupakan zat cair yang mudah menguap. Sevofluran merupakan anestesi in halasi terbaru tetapih belum diizinkan beredar di USA. Anestesi inhalasi konvensional seperti eter, siklopropan, dan kloroform pemakaiannya sudah dibatasi karena eter dan siklopropan mudah terbakar sedangkan kloroform toksik terhadap hati. o Farmakokinetik Dalamnya anestesi ditentukan oleh konsentrasi anestetik didalam susunan saraf pusat. Kecepatan pada konsentrasi otak yang efektif (kecepatan induksi anestesi) bergantung pada banyaknya farmakokinetika yang mempengaruhi ambilan dan penyebaran anestetik. Factor tersebut menentukan perbedaan kecepatan transfer anestetik inhalasi dari paru kedalam darah serta dari darah ke otak dan jaringan lainnya. Faktor-faktor tersebut juga turut mempengaruhi masa pemulihan anestesi setelah anestetik dihentikan. Ambilan, distribusi dan konsentrasi masing-masing dalam suatu campuran gas anestetik sebanding dengan tekanan atau tegangan persialnya. Istilah tersebut sering dipergunakan secara bergantian dalam membicarakan berbnagai proses transfer anestetik gas dalam tubuh. Tercapainya konsentrasi obat anestetik yang adekuat dalam otak untuk menimbulkan anestesi memerlukan transfer obat anestetik dari udara alveolar kedalam darah dan otak. Kecepatan pencapaian konsentrasi ini bergantung pada sifat kelarutan anestetik, konsentrasinya dalam udara yang dihisap, laju ventilasi paru, aliran darah paru, dan perbedaan gradian konsentrasi (tekanan parsial) obat anestesi antara darah arteri dan campuran darah vena. a) Kelarutannya Salah satu penting factor penting yang mempengaruhi transfer anestetik dari paru kedarah arteri adalah kelarytannya. Koefisien pembagian darah; gas merupakan indeks kelarutan yang bermakna dan merupakan tanda-tanda afinitas relative suatu obat anestetik terhadap darah dibandingkan dengan udara. b) Konsentrasi anastetik didalam udara inspirasi Konsentrasi anestetik inhalasi didalam campuran gas inspirasi mempunyai efek langsung terhadap tegangan maksimun yang dapat tercapai didalam alveolus maupun kecepatan peningkatan tegangan ini didalam darah arterinya. c) Ventilasi paru Kecepatan peningkatan tegangan gas anestesi didalam darah arteri bergantung pada kecepatan dan dalamnya ventilasi per menit. Besarnya efek ini bervariasi sesuai dengan pembagian koefisien darah; gas d) Aliran darah paru Perubahan kecepatan aliran darah dari dan menuju paru akan mempengaruhi transfer obat anestetik. Peningkatan aliran darah paru akan memperlambat kecepatan peningkatan tekanan darah arteri, terutama oleh obat anestetik dengan kelarutan drah yang sedang sampai tinggi. e) Gradient konsentrasi arteri-vena Gradien konsentrasi obat anestetik antara darah arteri dan vena campuran terutama bergantung pada kecepatan dan luas ambilan obat anestesi pada jaringan itu, yang bergantung pada kecepatan dan luas ambilan jaringan. f). Pembuangan Waktu pemulihan anestesi inhalasi bergantung pada kecepatan pembuangan obat anestetik dari otak setelah konsentrasi obat anestesi yang diisap menurun. Banyaknya proses transfer obat anestetik selama waktu pemulihan sama dengan yang terjadi selama induksi. Factor-factor yang mengontrol kecepatan pemulihan anestesi meliputi; aliran darah paru, besarnya ventilasi, serta kelarutan obat anestesi dalam jaringan dan darah serta dalamnya fase gas didalam paru. • Farmakodinamik a. Mekanisme kerja Kerja neurofisiologik yang penting pada obat anestesi umum adalah dengan meningkatkan ambang rangsang sel, Aloia, 1991. Dengan meningkatnya ambang rangsang, akan terjadi penurunan aktivitas neuronal. Obat anestetik inhalasi seperti juga intravena barbiturate dan benzodiazepine menekan aktivitas neuron otak sehingga akson dan transmisisinaptik tidak bekerja. Kerja tersebut digunakan pada transmisi aksonal dan sinaptik, tetapi proses sinaptik lebih sensitive dibandingkan efeknya. Mekanisme ionik yang diperkirakan terlibat adalah bervariasi. Anestetik inhalasi gas telah dilaporkan menyebabkan hiperpolarisasi saraf dengan aktivitas aliran K+, sehingga terjadi penurunan aksi potensial awal, yaitu peningkatan ambang rangsang. Penilitian elektrofisiologi sel dengan menggunakan analisa patch clamp, menunjukkan bahwa pemakaian isofluran menurunkan aktivitas reseptor nikotinik untuk mengaktifkan saluran kation yang semuanya ini dapat menurunkan kerja transmisi sinaptik pada sinaps, kolinergik. Efek benzodiazepine dan barbiturate terhadap saluran klorida yang diperantai reseptor GABAA akan menyebabkan pembukaan dan menyebabkan hiperpolarasi, tehadap penurunan sensitivitas. Kerja yang serupa untuk memudahkan efek penghambatan GABA juga telah dilaporkan pemakaian propofol dan anestetik inhalasi lain. Mekanisme molecular dengan anestetik gas merubah aliran ion pada membran neuronal belumlah jelas. Efek ini dapat menghasilkan hubungan interaksi langsung antara molekul anestetik dan tempat hidrofobik pada saluran membrane protein yang spesifik. Mekanisme ini telah diperkenalkan pada penilitian interaksi gas dengan saluran kolineroseptor nikotinik interkais yang tampaknya untuk menstabilkan saluran pada keadaan tertutup. Interpretasi alternatif, yang dicoba untuk diambil dalam catatan perbedaan struktur yang nyata diantara anestetik, memberikan interaksi yang kurang spesifik pada obat ini dengan dengan membran matriks lipid, dengan prubahan sekunder pada fungsi saluran. b. Karakteristik dosis-Respons: Konsentrasi alveolar minuman obat anestesi (KAM) Obat anestetik inhalasi masuk ke dalam paru dalam bentuk campuran gas dengan konsentrasi dan kecepatan pengaliran yang mudah diukur dan dikontrol. Akan tetapi, pencapaian keadaan anestesi secara klinik sukar diukur. Pertama: hasil stadium anestesi bergantung pada konsentrasi obat anestetik didalam otak dimana konsentrasi ini sukar diukur pada kondisi klinik penderita. Kedua: tidak semua kurva dosis respons minimal dan maksimal menentukan, walaupun pada dosis yang sangat rendah rasa nyeri masih terasa. Pemberian dosis tinggi mempunyai resiko yang besar karna adanya depresi pernafasan dan kardiovaskular. Akhirnya, penggunaan optimal dosis anestetik dapat tercapai dengan menggunakan prinsip respons dosis quantal. Selama anestesi umum, tekanan parsial aanestetik inhalasi pada otak sama dengan tekanan didalam paru saat dosis anestetik telah tercapai. Pada pemberian kadar anestesi, pengukuran konsentrasi alveolar keadaan tetap anestesi yang berbeda memberikan perbandingan potensi relatifnya. Dosis gas anestetik yang diberikan dapat dinyatakan dalam perkalian KAM. Sementara dosis 1 KAM suatu anestetik mencegah gerakan sebagai respons terhadap in sisi bedah pada 50% penderita. Masing-masing penderita mungkin memerlukan antara 0,5-1,5 KAM. (KAM tidak memberikan informasi mengenai kemiringan kurva dosis respons). Pada umumnya, kurva hubungan dosis respons untuk anestetik inhalasi curam, jadi lebih dari 95% penderita mungkin gagal berespons terhadap rangsangan yang merugikan pada 1,1 KAM. Pengukuran nilai KAM pada kondisi terkontrol memungkinkan efek kuantitatif berbagai variable yang diperlukan dalam anestesi. Sebagai contoh, nilai KAM akan menurun pada penderita labsia tetapih tidak banyak dipengaruhi oleh jenis kelamin, tinggi badan, dan berat badan. Yang sangat penting adalah adanya obat tambahan, yang dapat mengubah banyaknya kebutuhan obat anestetik. Sebagai contohnya, adanya obat analgesic narkotik atau sedative hipnotik maka KAM-nya akan menurun yang berarti konsentrasi obat anestetik yang diisap juga harus diturunkan dalam jumlah yang sebanding. Efek anestetik inhalasi terhadap system organ :  Efek terhadap kardiovaskuler Halotan, desfluran, enfluran dan isofluran menurunkan tekanan arteri rata-rata yang berbanding langsung dengan konsentrasi alveolarnya. Dengan halotan dan enfluran, penurunan tekanan arteri nampaknya disebabkan karena penurunan curah jantung, karena sedikitnya perubahan dalam tahanan vascular sistemik (misalnya, peningkatan aliran darah serebral). Sebaliknya, isofluran dan desfluran mempunyai efek depresi terhadap tekanan arteri sebagai akibat penurunan tahanan vascular sistemik; mereka mempunyai efek yang kecil terhadap curah jantung. • Efek terhadap system pernafasan Dengan pengecualian terhadap nitrogen oksida, semua anestetik inhalasi akan menurunkan volume tidal dan meningkatkan frekuensi pernafasan. Akan tetapi, peningkatan frekuensi pernafasan tidak cukup untuk mengkompensasi penurunan volume, yang menghasilkan penurunan pernafasan per menit. Semua obat anestesi inhalasi akan menekan pernafasan, seperti yang dapat diukur dengan berbagai variasi kadar CO2. • Efek terhadap obat Obat anestetik inhalasi menurunkan laju metabolic otak. Namun, kebanyakan meningkatkan aliran darah serebrum karena penurunan tahanan vascular serebri. Peningkatan aliran darah serebrum sering tidak diharapkan dalam klinik. Sebagai contoh, pada penderita dengan tekanan intracranial yang meninggi karena tumor otak atau trauma kapitis, pemberian obat anestetik inhalasi akan meningkatkan aliran darah ke otak, yang kemudian akan meningkatkan volume darah otak dan lebih jauh akan menambah tekanan intracranial. Halotan,enfluran, dan isofluran mempunyai efek yang sama pada pemeriksaan EEG. Sampai dosis 1-15 MAC. • Efek terhadap ginjal Dalam berbagai derajat, semua obat anestesi inhalasi akan menurunkan filtrasi glomerulus dan aliran plasma ginjal serta meningkatkan fraksi filtrasi. Semua obat anestetik cenderung meningkatkan tahanan vascular ginjal. Penurunan aliran darah ginjal selama anestesi umum akan mengganggu autoregulasi aliran darah ginjal. • Efek terhadap hati Semua obat anestetik inhalasi akan menurunkan aliran darah ke hati dan umumnya berkisar antara 15 sampai 45% dari aliran darah sebelum anestesi dilakukan. • Efek terhadap otot polos uterus Nitrogen oksida mempunyai efek yang kecil terhadap otot polos uterus. Akan tetapi, isofluran, halotan dan enfluran merupakan relaksan otot uterus yang kuat. Efek farmakologi ini akan menguntungkan bila diperlukan relaksasi otot uterus yang kuat untuk memanipulasi janin intrauterine selama masa persalinan. sebaliknya, selama dilatasi dan kuretase pada obortus terapeutik, obat anestetik tersebut mungkin dapat meningkatkan perdarahan. c. Toksisitas a) Hepatotoksisitas (halotan) Biasanya hepatitis pascabedah selalu dikaitkan dengan factor lain seperti transfuse darah, syok hipovolemik, atau stress bedah lainnya dibandingkan dengan toksisitas obat anestetik. Akan tetapi, obat halocarbon dapat menyebabkan kerusakan hati sedangkan kloroform telah dikenal sebagai anestetik hepatotoksik pada dasawarsa abad ini. Halotan telah diperkenalkan mulai tahun 1956 dan sampai tahun 1963 telah banyak dilaporkan berbagai kasus ikterus pascabedah dan nekrosis hati yang berhubungan dengan pemakaian halotan. Walaupun begitu, berbagai penilitian retrospektif mengenai halotan yang dibandingkan dengan anestetik lainnya tidak menunjukkan peningkatan insidens kerusakan hati pascabedah dengan halotan. b) Netrotoksisitas Tahun 1966, pertama kali dilaporkan adanya penderita poliuri inufisiensi ginjal yang resisten terhadap vasopressin pada 13 dari 41 penderita yang mendapat anestetik metoksifluran untuk operasi abdomen. Akhirnya, diketahui penyebabnya adalah fluoride inorganic yang merupakan produk akhir biotranspormasi metoksifluran. c) Hipertermia berat Walaupun jarang ditemukan, kemungkinan pada penderita yang rentan secara genetic yang terpapar anestetik inhalasi yang dapat terjadi sindrom yang bersifat letal secara potensial, yang meliputi takikardia dan hipertensi dengan asidosis yang progresif, hiperkalemia, kejang otot, dan hipertermia. Mula kerja ini terlihat jika subsinilkolin dipakai untuk merelaksasi otot. Pengobat dengan dentrolen intra vena dengan ukuran yang tepat untuk menurunkan suhu tubuh serta mengembalikan keseimbangan elektrolit dan asam basa. d) Toksisitas kronik o Mutagenisitas o Kasinogenitas o Efek pada reproduksi o Hematotoksisitas d. Penggunaan klinik inhalasi Dari semua obat anestetik inhalasi yang tersedia hitororegen oksida, desfluran, dan isofluran paling banyak dipergunakan di AS. Walaupun jarang digunakan pada orang dewasa. Halotan banyak digunakan pada anestesi anak. Nitrogen oksida tidak mempunyai kekuatan cukup untuk menimbulkan efek anestesi bila diberikan tersendiri. Umumnya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan anestetik inhalasi yang lainnya, atau kombinasi dengan anestetik intra vena untuk menimbulkan anestesi lokal. 2. Anestetik Intravena Beberapa obat anestetik diberikan secara intravena baik tersendiri maupun dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya untuk mempercepat tercapainya stadium anestesi atau pun sebagai obat penenang pada penderita gawat darurat yang mendapat pernafasan untuk waktu yang lama, Yang termasuk : a. Barbiturat (tiopental, metoheksital) b. Benzodiazepine (midazolam, diazepam) c. Opioid analgesik dan neuroleptik d. Obat-obat lain (profopol, etomidat) e. Ketamin, arilsikloheksilamin yang sering disebut disosiatif anestetik.  Tanda Dan Stadium Anestesi Sejak obat anestesi umum di perkenalkan, telah diusahakan mengkorelasikan efek dan tandanya untuk mengetahui dalamnya anestesi. Gambaran tradisional tanda dan stadium anestesi (tanda guedel) berasal terutama dari penilitian efek diatil eter, yang mempunyai mula kerja sentral yang lambat karena kelarutannya yang tinggi didalam darah. Stadium dan tanda ini mungkin tidak mudah terlihat pada pemakaian anestetik modern dan anestetik intravena yang bekerja cepat. Karenanya, pemakaian anestetik dipergunakan dalam bentuk kombinasi antara anestetik inhalasi dengan anestetik intravena. Namun tanda-tanda anesthesia dietil eter masih memberikan dasar untuk menilai efek anestetik untuk semua anestetik umum. Banyak tanda-tanda anestetik ini menunjukkan pada efek obat anestetik pernafasan, aktivitas refleks, dan tonus otot. Secara tradisional, efek anestetik dapat dibagi 4 stadium peningkatan dalamnya depresi susunan saraf pusat, yaitu : 1. Stadium analgesi Pada stadium awal ini, penderita mengalami analgesi tampa disertai kehilangan kesadaran. Pada akhir stadium 1, baru didapatkan amnesia dan analgesi 2. Stadium terangsang Pada stadium ini, penderita tampak delirium dan gelisah, tetapih kehilangan kesadaran. Volume dan kecepatan pernafasan tidak teratur, dapat terjadi mual. Inkontinensia urin dan defekasi sering terjadi. Karena itu, harus diusahakan untuk membatasi lama dan berat stadium ini, yang ditandai dengan kembalinya pernafasan secara teratur. 3. Stadium operasi Stadium ini ditandai dengan pernafasan yang teratur. Dan berlanjut sampai berhentinya pernafasan secara total. Ada empat tujuan pada stadium III digambarkan dengan perubahan pergerakkan mata, dan ukuran pupil, yang dalam keadaan tertentu dapat merupakan tanda peningktan dalamnya anestesi. 4. Stadium depresi medula oblongata Bila pernafasan spontan berhenti, maka akan masuk kedalam stadium IV. Pada stadium ini akan terjadi depresi berat pusat pernafasan dimedula oblongata dan pusat vasomotor. Tampa bantuan respirator dan sirkulasi, penderita akan cepat meninggal. Pada praktek anestesi modern, perbedaan tanda pada masing-masing stadium sering tidak jelas. Hal ini karena mula kerja obat anestetik modern relatife lebih cepat dibandingkan dengan dietil eter disamping peratan penunjang yang dapat mengontrol ventilasi paru secara mekanis cukup tersedia. Selain itu, adanya obat yang diberikan sebelum dan selama operasi dapat juga berpengaruh pada tanda-tanda anestesi. Atropin, digunakan untuk mengurangi skresi, sekaligus mendilatasi pupil; obat-obatnya seperti tubokurarin suksinilkolin yang dapat mempengaruhi tonus otot; serta obat analgetik narkotik yang dapat menyebabkan efek depresan pada pernafasan.tanda yang paling dapat diandalkan untuk mencapai stadium operasi adalah hilangnya refleks kelopak mata dan adanya pernapasan yang dalam dan teratur.  Obat anestesi intravena 1. Barbitura kerja ultra singkat Walaupun terdapat beberapa babiturat dengan masa kerja ultra singkat, tiopenta merupakan obat terlazim yang digunakan untuk induksi anestesi dan banyak dipergunakan dalam bentuk kombinasi anestetik inhalasi lainnya. Setelah pemberian secara intra vena, tiopenta akan melewati sawa darah otak secara tepat dan, jika diberikan pada dosis yang mencukupi, akan menyebabkan akan mengakibatkan hypnosis dalam waktu sirkulasi. Efek sama akan terlihat pada pemberian barbiturate dengan masa kerja ultra singkat lainnya seperti diamilan dan metoheksitan 2. Benzodiazepine Anggota tertentu dalam kelompok obat sedative hypnosis seperti diazepam, lorazepam, dan midazolam, yang dipergunakan pada prosedur anestesi. (dasar-dasar farmakologi benzodiazepin) diazepam dan lorazepan tidak larut dalam air dan penggunaan intravenanya memerlukan vehikulum yang tidak encer, sehingga pemberian intravena dapat menyebabkan iritasi luka. Formulasi mudah larut dalam air dan kurang iritasi tetapih mudah larut dalam lemak pada pH fisiologis serta mudah melewati sawa darah otak. 3. Anestesi analgesic opioid Dosis besar analgesic opioid telah digunakan untuk anestetik umum, terutana pada penderita operasi jantung atau operasi besar lainnya ketika sirkulasi dalam keadaan minimal. Pemberian morfin, secara intravena dengan dosis 1 sampai 3 per kg digunakan dalam keadaan sirkulasi yang berat. 4. Propofol Merupakan salah satu anestetik intravena yang sangat penting. Propofol dapat menghasilkan anestesi kecepatan yang sama denga npemberian barbiturate secara inutravena, dan waktu pemulihan yang lebih cepat 5. Etomidat Etomidat merupakan imidazol karboksilasi yang digunakan untuk induksi anestesi dan teknik anestesi secara seimbang yang tidak boleh diberikan untuk jangka lama. Kelebihan utama dari anestestik ini yaitu depresi kardiovaskular dan repilasi yang minimal. 6. Ketamin Ketamin menimbulkan anestesi disosiatif yang ditandai dengan kataton, amenesia, dan analgesia. Mekannisme kerjanya adalah dengan cara menghambat efek membrane eksitator neurotrasmiter asam glutamate pada subtype reseptor NMDA. OBAT YANG DIGUNAKAN 1. Desfluran (suprane) Cairan: 240 mL untuk inhalasi 2. Diazepam (generic,valium,dll) Oral; tablet 2,5, 10 mg ; cairan 5 mg/ 5 mL Oral lepas lambat; kapsul 15 mg Parenteral; 5 mg/ mL untuk suntikan 3. Enfluran (ethrane) Cairan : 125,250 mL untuk inhalasi 4. Etomizad (amidate) Parenteral ;2 mg/ mL untuk suntikan 5. Halutan (generic, fluothane) Cairan 125, 250 mL untuk inhalasi 6. Isofluran (floren ) Cairan 100mL untuk inhalasi 7. Ketamin (ketalan) Parenteral; 10,15,100 mg/mL untuk suntikan 8. Lorazepam (generek, aktivam, alzavam) Oral, tablet 0,5;1,2mg Parenteral;2,4mg/ mL untuk sutikan 9. Meto hek sital (brevital sodium) Parenteral: 0,5; 2,5;5 g, serbuk untuk suntikan 10. Mektoksifluran (penthrane) Cairan ; 15,125 mL untuk inhalasi 11. Mizazolam (versed) Parenteral;1,5mg/ mL untuk suntikkan dala vial, 1,2, 5 , 10 mL 12. Nitrogen oksida (gas, dalam tabung warna biru) 13. Kropopol (dirifan) Parenteral: 10 mg/Ml dalam 20 mL vial untuk suntika 14. Tiamilar (surital) Parenteral : cairan untuk injeksi dalam vial 1,5, 10 g 15. Thiopental (penthoal) Parenteral: 250, 400, 500 mg diisi dalam suntikan ; 500mg dan 1 g cairan dengannya ; 1, 2, 5, 5g kits Parental : 400 mg cairan diisi dalam suntikan B. Anestesi Lokal 1. Farmakologi dasar anestesis lokal  Kimiawi Umumnya obat anestesis lokal terdiri dari sebuah gugus lipolifit (biasanya sebuah cincin aromatik) yang diberikatan dengan sebuah rantai perantara (umumnya termasuk suatu ester atau sebuah amida) yang terikat pada satu gugus terionisasi. Aktivitas optimal memerlukan keseimbangan yang tepat antara gugus lipofilik dan kekuatan hidrofilik. Penambahan sifat fisik molekul, maka konfirgurasi stereokimia specifik menjadi penting, misalnya perbedaan potensi stereoisomer telah diketahui untuk beberapa senyawa. Karena ikatan ester (seperti prokain) lebih mudah terhidrolisis dari ikatan amida, maka lama kerja ester biasanya lebih singkat. 1. Farmakokinetik Anestesi lokal biasanya diberikan secara suntikan ke dalam daerah serabut saraf yang akan menghamba. Oleh karena itu, penyerapan dan distribusi tidak terlalu penting dalam memantau mula kerja efek dalam menentukan mula kerja anestesi dan halnya mula kerja anestesis umum terhadap SPP dan toksisitasnya pada jantung. Aplikasi topikal anestesi lokal bagaimanapun juga memerlukan difusi obat guna mula keja dan lama kerja efek anestesinya.  Absorbsi Absorbsi sistemik suntikan anestesi lokal dari tempat suntikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dosis, tempat suntikan, ikatan obat jaringan, adanya bahan vasokonstriktor, dan sifat fisikokimia obat. Aplikasi anestesi lokal pada daerah yang kaya vaskularisasinya seperti mukosa trakea menyebabkan penyerapan obat yang sangat cepat dan kadar obat dalam darah yang lebih tinggi dibandigkan tempat yang perfusinya jelek, seperti tendo. Untuk anestesi regio yang menghambat saraf yang besar, kadar darah maksimum anestesi lokal menurun sesuai dengantempat pemberian yaitu: interkostal (tertinggi) > kaudal > epidural > pleksus brankialis > saraf insciadikus (terendah). Bahan vasokonstriktor seperti epinefrin mengurangi penyerapan sistematik anestesi lokal dari tempat tumpukan obat dengan menguragi aliran darah di daerah ini. Keadaan ini menjadi nyata terhadap obat yang massa kerjanya singkat atau menengah seperti prokain, lidokain, dan mepivakain (tidak untuk prilokain). Ambilan obat oleh saraf diduga diperkuat oleh kadar obat lokal yang tinggi ,dan efek dari toksik sistemik obat akan berkurang karena kadar obat yang masuk dalam darah hanya 1/3-nya saja  Distribusi Anestesi lokal amida disebar meluas dalam tubuh setelah pemberian bolus intravena. Bukti menunjukkan bahwa penyimpanan obat mungkin terjadi dalam jaringan lemak.setelah fase distribusi awal yang cepat, yang mungkin menandakan ambilan ke dalam organ yang perfusinya tinggi seperti otak, ginjal, dan jantung, dikuti oleh fase distribusi lambat yang terjadi karena ambilan dari jaringan yang perfusinya sedang, seperti otot dan usus. Karena waktu paruh plasma yang sangat singkat dari obat tipe estesr (lihat bawah), maka distribusinya tidak diketahui.  Metabolisme dan ekskresi Anestesi lokal diubah dalam hati dan plasma menjadi metabolit yang mudah larut dalam air dan kemudian diekskresikan ke dalam urin. Karena anestesi lokal yang bentuknya tak bermuatan mudah berdifusi melalui lipid, maka sedikit atau tidak ada sama sekali bentuk netralnya yang diekskresikan kerana bentuk ini tidak mudah diserap kembali oleh tubulus ginjal. Tipe ester anestesi lokal dihidrolisis sangat cepat di dalam darah oleh butirilkolinesterase (pseudokolinesterase). Oleh karena itu, obatini khas sekali mempunyai waktu paruh yang sangat singkat, kurang dari 1 menit untuk prokain dan kloroprokain. Penurunan pembersihan anestesi lokal leh hati ini harus diantisipasi dengan menurunkan aliran darah kehati. Sebagai contoh, pembersihan lidokain oleh hati pada binatang yang dianestesi dengan halotan lebih lambat dari pengukuran binatang yang diberi nitrogen oksida dan kurare. Penurunan pembersihan ini berhubungan penurunan aliran darah ke dalam hati dan penekanan mikrosom hati karena halotan. Propranolol dapat memperpanjang waktu paruh anestesi lokal amida. 2. Farmakodinamik  Mekanisme kerja Membran yang mudah terangsang dari akson saraf, mirip dengan membran otot jantung dan badan sel saraf, mempertahankan pontesial transmembran sekitar-90 sampai-60 mV. Saluran natrium terbuka, dan arus natrium yang masuk cepat kedalam sel dengan cepat mendeplorisasi membran ke arah keseimbangan potensial natrium (+40). Sebagai akibat ari deplorisasi ini, maka saluran natrium menutup (inaktif) dan saluran kalium terbuka. Alran kalium keluar sel ,mendeplorisasi membran ke arah keseimbangan potensial kalium (sekitar-95 mV); terjadi lagi repolarisasi saluran natrium menjadi keadaan istirahat. Sifat ini mirip dengan yang terjadi pada jantung, dan anestesi lokalpun mempunyai efek yang sama pada kedua jaringan tersebut. Fungsi saluran natrium dapat diganggu dengan beberapa cara. Racun biologi seperti batrakotoksin, aksonitin, veratidin, dan beberapa bisa skorpion meningkat reseptor di dalam saluran dan mencegah inaktivasinya. Akibatnya influks natrium ke dalam sel lebih lama melalui saluran dibandingkan dari hambatan konduksi, sehingga beberapa peneliti menyatakan bahwa zat diatas sebagai agonis pada saluran natrium. Racun larut tetrodoktosin dan saksitoksin menghambat saluran ini dengan berikatan pada reseptor saluran dekat permukaan ekstrasel. Efek kliniknya sepintas mirip dengan efek anestesi lokal walaupun bagian reseptornya agak beda. Anestesi lokal meningkatkan reseptor ujung intrasel saluran adanya bahan vasokonstriksiktor, dan sifat fisikokimia obat. Aplikasi anestesi lokal pada daerah yang kaya askularisasinya seperti mukosa trakea menyebabkan penyerapan obat yang sangat cepat dan kadar obat dalam darah yang lebih tinggi dibandingkan tempat yang diperfusinya jelek, seperti tendo. Bila peningkatan konsentrasi secara progresif anestesi lokal digunakan pada satu serabut saraf, nilai ambang eksitasinya meningkat, konduksi impuls melambat, kecepatan munculnya potensial aksi mengecil,dan akhirnya kemapuan melepas satu potensial aksila hilang. Efek yang bertambah tadi merupakan ikatan anestesi lokal terhadap banyak dan makin banyak saluaran natrium. Jika arus ini dihambat mebilih titik krirts saraf, maka propagasi yang melintas daerah yang dihambat ini tidak mungkin terjadi lagi. Pada dosis terkecil yang dibutuhkan untuk menghambat ropagasi, potensial istirahat. Di antara depolarisasi akson, sebagian saluran natrium pulih dari penghambat obat yang ini 10-100 kali lebih lambat dari pada kepulihan saluran dari inaktivasi normal, seperti yang nampak pada membran jantung. Akibatnya, masa refrakter diperpanjang dan saraf hanya dapat menyalurkan sedikit impuls saja. Walaupun anestesi lokal dapat dibukitan menghambat sejumlah saluran lainnya, termasuk saluran sinaptik perantara kimiawi, belum ada bukti yang menyakinkan bahwa kerja demikian berperan penting pula dalam efek klinik dari obat anestesi lokal. Namun, penelitian percobaan pada seabut saraf dan sel otot jantung menunjukkan bahwa obat yang memperpanjang potensial aksi dapat meningkatkan dengan jelas kepekaan saluran natrium terhadap penghambatan anestesi lokal (Drachman, 1991). Hal ini dapat diterangakan dengan pengamatan uraian di atas, yaitu afinitas saluran yang disktifkan dan diinaktifkan terhadap anestesi lokal lebih besar dari pada afinitas saluran dalam keadaan isirahat.  Karakteristik struktur-aktivitas anestesi lokal Makin kecil dan makin banyak molekul lipofilik, makin cepat pula kecepatan interaksi dengan reseptor saluran natrium. Potensi mempunyai hunbungan positif pula dengan larutan lipid selama obat menahan kelarutan air yang cukup untuk berdifusi ke tempat kerja. Lidokain, prokain, dan mepivakin lebih larut dalam air dibandingkan tetrakain, etidokain, dan bupivakain. Obat yang terakhir lebih kuat dengan masa kerja yang panjang.obat terikat lebih ekstensif pada protein dan akan menggeser atau digeser dari tempat ikatannya oleh obat-obat lain.  Aksi terhadap saraf Karena anestesi lokal mampu menghambat semua saraf, maka kerjanya tidak saja terbatas pada hilangnya sensasi sakit dan nyeri yang diinginkan. Walaupun kelumpuhan motor pada suatu saat diperlukan juga, namun keadaan demikian membatasi kemapuan pasien untuk kerja sama, misalnya selama persalinan. Selama anestesi sinal, kelumpuhan motor justru merusak aktivitas pernapasan dan penghambatan saraf otonom dapat menimbulkan hipotensi, namun demikian,perbedaan tipe serabut saraf akan membedakan dengan nyata kepekaannya terhadap penghambatan anestesi lokal atas dasar pengukuran dan mielinasi.  Efek diameter serabut Anestesi lokal lebih mudah menghambat serabut ukuran kecil karena jarak di mana propagasi suatu impuls listrik merambat secara pasif pada serabut tadi (berhubungan dengan constant ruang) jadi lebih singkat. Selama mula kerja anestesi lokal, bila bagian pendek serabut dihambat, maka serabut berdiameter kecil yang pertama kali gagal menyalurkan impuls. Terhadap serabut yang bermielin, setidaknya tiga nodus berturut-turut dihambat oleh anestesi lokal untuk menghentikan propagasi impuls. Makin tebal serabut saraf, makin terpisah jauh nodus tadi yang menerangkan sebagian, tahanan yang lebih besar untuk menghambat serabut besar tadi. Saraf bermielin cenderung dihambat serabut saraf yang tidak bermielin pada ukuran yang sama. Dengan demikian, serabut saraf preganglionik B dapat dihambat sebelum serabut C kecil yang tidak bermielin.  Efek frekuensi letupan Alasan penting lain terhadap mudahnya penghambatan serabut sensoris mengikuti langsung dari mekanisme kerja yang bergantung pada keadaan anestesi lokal. Serabut sensoris, terutama serabut nyeri ternyata berkecukupan letupan tinggi dan lama potensial aksi yang relative lama (mendekati 5 milidetik). Serabut motor meletup pada kecepatan yang lebih lambat dengan potensial aksi yang singkat (0,5 milidetik). Serabut delta dan C adalah serabut berdiameter kecil yang terlibat pada transmisi nyeri berfrekuensi tinggi. Oleh karena itu, serabut ini dihambat lebih dulu dengan anestesi lokal kadar rendah dari pada serabut A alfa.  Efek posisi saraf dalam bundle saraf Pada sekumpulan saraf yang besar, saraf motor biasanya terletak melingkari bundle dan oleh karena itu saraf ini akan terpapar lebih dulu bila anestesi lokal diberikan secara suntikan ke dalam jaringan sekitar saraf. Akibatnya bukan tidak mungkin saraf motor terhambat sebelum penghambatan sensoris dalam bundle besar. Jadi, selama infiltrasi hambatan saraf besar, anestesi muncul lebih dulu di bagian proksimal dan kemudian menyebar ke distal sesuai dengan penetrasi obat ke dalam tengah bagian bundle saraf.  Efek Terhadap Membran yang Mudah Terangsang Lainnya Anestesi lokal mempunyai efek menghambat otot saraf yang lemah dan tidak begitu penting dalam klinik. Namun, efeknya terhadap membran sel otot jantung mempunyai makna klinik yang penting  Toksisitas Seharusnya obat anestesi lokal diserap dari tempat pemberian obat. Jika kadar obat dalam darah meningkat terlalu tinggi, maka akan timbul efek pada berbagai sistem organ. a. Sistem saraf pusat Sejak zaman prasejarah, penduduk asli peru telah mengunyah daun tumbuhan erythoxylon coca, sumber kokain, untuk, untuk memperolehperasaan nyaman dan menguragi keletihan. Efek SSP yang kuat dapat diperoleh dengan menyedot bubuk kokain. Kokain kini telah menjadi satu penyalahgunaan obat yang paling banyak digunakan. Anestesi lokal lainnya tidak memiliki efek euforia kokain. Namun, beberapa penelitian menunjukkan b ahwa beberapa pemakai ketagihan kokain tidak dapat membedakan antara pemberian kokain intranasal dengan lidokain intranasal. Efek SSP lainnya termasuk ngantuk, kepala terasa ringan, gangguan visual dan pendengaran, dan kecemasan. Pada kadar yang lebih tinggi, akan timbul pula nistagmus dan mengigil. Akhirnya kejang toni klonik yang terus menerus diikuti oleh depresi SSP dan kematian yang terjadi untuk semua anestesi lokal termasuk kokain. Anestesi lokal nampaknya depresi jalur penghambatan kortikal, sehingga aktivitas komponen eksitasi sisi sepihak akan muncul. Tingkat transisi eksitasi tak seimbang ini akan diikuti oleh depresi SPP umumnya bila kadar anestesi lokal dalam darah lebih tinggi lagi. b. Reaksi toksik yang paling serius dari obat anestesi lokal yang timbulnya kejang karena kadar obat dalam darah yang berlebihan. Keadaan ini dapat dicegah dengan hanya memberikan anestesi lokal dalam dosis kecil sesuai dengan kebutuhan untuk anestesi yang adekuat saja. Bila harus diberikan dalam dosis besar, maka perlu ditambahkan premedikasi dengan benzodiazepin; seperti diazepam, 0,1-0,2 mg/kg parenteral untuk mencegah bangitan kejang. Bila kejang sudah terjadi, maka perlu untuk mencegah hipoksemia dan asidosis. Walaupun pemberian oksigen tida dapat mencegah hiperroksemia setelah munculnya kejang. Sebaliknya, hiperkapnia dan asidosis turut memperberat kejang. Hiperventilasi dapat meningkatkan pH darah, yang kemudian akan menurunkan kadar kalium ekstrasel. Hal ini akan menghiperpolarisasi potensial transmembran akson, yang cocok untuk keadaan istirahat atau afinitas rendah saluran natrium, sehingga toksisitas anestesi lokal berkurang. Kejang akibat anestesi lokal dapat diobati pula dengan barbiturat kerja singkat dosis kecil, seperti tiopental, 1-2 mg/kg secara intravena, atau azepam, 0,1 mg/kg intravena. Manifestasi otot dapat ditekan dengan obat penyakat otot saraf kerja singkat, seperti suksinilkolin tidak memperbaiki menifestasi kortikal pada EEG pada kasus pemberian suksinilkolin dan ventilasi mekanik dapat mencegah aspirasi paru dari cairan lambung dan mempermudah terapi hiperventilasi. c. Sistem saraf perifer (neurotoksisitas) Bila diberikan dalam dosis yang sangat berlebihan, semua anestesi lokal akanmenjadi toksik terhadap jaringan saraf. Beberapa laporan menunjukkan kasus defesit sensoris dan motor yang belanjut setelah kecelakan anestesi spinal dengan klopoprokain volume besar. Apakah klopoprokain memang lebih neurotoksik dibandingkan denga anestesinya belum bisa dipastikan. d. Sistem kardiovaskuler Efek kardiovaskular anestesi lokal akibat sebagian dari efek langsung terhadap jantung dan menbran otot polos serta dari efek secara tidak langsung melaluai saraf otonom. Seperi uraian dalam anestesi lokal menhambat saluran natrium jantung sehingga menekan aktivitas pacu jantung, eksitabilitas, dan konduksi jantung menjadi normal. Dengan perkecualian kokain, obat anestesi lokal menekan pula kekuatan kontaksi jantung sehingga terjadi dilatasi arteriol, di mana kedual efek ini akan menimbulkan hipotensi. Walaupun kolaps kardiovakular dan kematian biasanya timbul setelah pemberian dosis yang sangat tinggi, kadang-kadang dapat pula terjadi dalam dosis kecil yang diberikan secara anestesi inflitrasi. e. Seperti catatan di atas, kokain berbeda dengan anestesi lain dalam hal efek kardiovaskularnya. Hambatan ambilan kembali norepineprin dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi. Kokain dapat pula menyebkan aritmia jantung. Efek vasokostriksi kokain akan menimbulkan iskemia pada mukosa hidung, dan pada pemakai jangka panjang, bahkan dapat terjadi tukak lapisan mukosa dan kerusakan eptum hidung. Sifat vasokonstriksi kokain ini dimanfaatkan secara klinik untuk mengurangi perdarahan akibat kerusakan mukosa nasofaring. Bupivakain lebih kardiotoksik daripada anestesi lokal lainnya. Beberapa kasus menunjukkan bahwa kelalaian suntikan bupivakain intravena intravena tidak saja menyebabkan kejang tetapi juga kolaps kardiovaskular, di mana tindakan resusitasi sangat sulit dilakukan dan tidak akan berhasil. Beberapa penilitian pada binatang sepakat tentang ide bahwa bupivakain memang lebih toksik bila diberikan secara intervena dibandingkan anestesi lokal lainnya. Hal ini menggambarkan bahwa saluran natrium bupivakain sangat diperkuat oleh masa kerja yang kuat dan sangat lama pada seln jantung (dibandingka serabut saraf lain), dan tidak seperti lidokain, bupivakain menumpuk jelas pada denyut jantung normal. Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa gambaran EKG yang sangat umum pada pasien yang diberi bupivakain ternyata irama idioventrikular melambat dengan kompekls QRS yang melebar dan disosiasi elektromekanik. Resusitasi pernah berhasil dengan bantuan kardiopulmoner standar- termasuk koreksi asidosis yang jitu dengan hiperventilasi dan pemberian bikarnoat-dan pemberian epineprin, atropin, dan bretilium yang agresif. Ropivakain adalah anestesi lokal amida yang baru dan masih diteliti dengan efek anestesi lokalnya sama dengan bupivakain. Bukti awal menunjukkan bahwa toksisitas kardiovaskularnya lebih kecil daripada bupivakain. f. Darah Pemberian prilokain dosis besar (>`10mg/kg) selama anestesi regional akan menimbulkan penumpukan metabolit toluidin, suatu zat pengoksidasi yang. Bila kadar methemoglobin ini cukup besar (3-5 mg/dL), maka pasien akan nampak sianotik dan warna menjadi coklat. Kadar methemoglobin demikian menimbulkan dekompensasi pada pasien dengan penyakit jantung atau paru sehingga perlu pengobatan segera. Tindakan untuk menguragi kadar methemoglobin dengan metilin biru, asam askobat, kurang memuaskan, dapat diberikan secara intravena agar methemoglobin segera dikonversi menjadi hemoglobin. g. Reaksi alergi Anestesi lokal tipe ester dimetabolisir menjadi turunan asam p aminobenzoat. Metabolit ini dapat menimbulkan reaksi alergi pada sekelompok kecil populasi. Amida tidak dimetabolisir menjadi asam p- aminobenzoat, sehingga reaksi alergi tipe amida ini sangat jarang sekali terjadi. OBAT YANG TERSEDIA 1. Benzokain (generik,lain-lain) Topikal: krim 5,6%; 6,20%; salep 5%; lotion 0,5%; semprot20% 2. Bupivakain (generik, marcaine, sensorcaine) Parentetal: 0,25, 0,5, 0,75% untuk disuntik; 0,25, 0,5, 0,75% dengan 1:200000 3. Butamben pikrat (butesin picrate) Topikal: salep 1% 4. Kloroprokain (nesacaine) Parentetal: 1,2,3,% untuk suntikan 5. Kokain (generik) Topikal: larutan 40, 100 mg/ml: bubuk 5,25g; tablet mudah larut 135 mg 6. Dibukain (generik, nupercainal) Topikal : krim 0,5%; salep 1% 7. Diklonin (dyclone) Topikal: larutan 0,5, 1% 8. Etidokain (duranest) Parental :1% untuk suntikan; 1, 1,5% dengan epinefrin 1:200000 untuk suntikan 9. Lidokain (generik,xylocaine, lainya) Parental: 0,5, 1, 1,5, 2, 4, 10, 20% untuk suntikan; 0,5, 1, 1,5, 2% dengan apinefrin 1:200000; 1,2% dengan epinefrin 1:100000;2% dengan epinefrin 1:50000 Topikal: salep 2,5, 5%; krim 5%; jelly dan larutan 2%; larutan 2, 4, 10% 10. Mepivakain (generik,carbocaine, lainya) Parental: 1, 1,5, 2, 3% untuk suntikan ;25 dengan levonordefrin 1:20000 11. Pramoksin (tronothane,prax) Topikal: krim 0,5, 1%;lotion dan gel 1% 12. Prilokain (citanest) Parental; 4% untuk suntikan,4% dengan epinefrin 1:200000 13. Prokain (generik,novocain) Parental; 1,2,10% untuk suntikan 14. Propoksikain dan prokain (revocaine dan novocain) Parental: 7,2 mg propoksikain dengan 36 mg prokain dan norepifrin atau kobefrin per 1,8 mL unit suntikan gigi 15. Tetrakain (pontocaine) Parental;1% untuk suntikan; 0,2, 03% dengan 6% dekstrosa untuk anestesi spinal 16. Topikal; salep 0,5%;larutan (oftalmik)0,5%; krim 1%; larutan untuk kumur2%.

perawatan gigi

A. Konsep Dasar Gigi 1. Pengertian Gigi merupakan salah satu organ pengunyah, yang terdiri dari gigi- gigi pada rahang atas dan rahang bawah, lidah, serta saluran-saluran penghasil air ludah ( Tarigan, 2004). Karries gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jarinagan, dimulai dari permukaan gigi (Pits, fissure dan daerah interproksimal) meluas kearah pulpa (Bruer, 1995), Sedangkan menurut (Tarigan, 1990) mengatakan bahwa karries adalah proses netralisasi yang disebabkan oleh suatu interaksi antara (produk-produk) mikroorganisme ludah, bagian-bagian yang berasal dari makanan dan email. 2. Bagian – Bagian gigi a. Email Email yaitu lapisan terluar gigi yang meliputi seluruh corona, dalam bahasa Inggris disebut Crown artinya mahkota. Email merupakan bagian paling keras dari seluruh bagian gigi bahkan lebih kersa dari tulang. Email tersusun atas air 2,3 %, bahan organik 1,7 %, bahan anorganik 96%.. b. Dentin Dentin yaitu bagian yang terletak di bawah email, merupakan bagian terbesar dari seluruh gigi. Dentin lebih lunak dari email. Dentin tersusun atas 13,2 % air, 17 % bahan organik, dan 69 % bahan anorganik. c. Jaringan pulpa Jaringan benak gigi/sum-sum gigi, yaitu jaringan lunak yang terdapat di dalam kamar pulpa/ ruang dan seluruh saluran akar. Jaringan ini terdiri dari jaringan limfe, pembuluh darah arteri/ vena, dan urat syaraf. d. Sementum yaitu bagian yang meliputi seluruh lapisan luar gigi, kecuali pada bagian lubang pucuk/ ujung akar gigi disebut foramen apikalis. Sama seperti email dan dentin, sementum terdiri atas air 32 %, bahan organik 12 % dan bahan anorganik 56 % (Ircham Mc, 2005). 3. Susunan Gigi anak TK Gigi sulung bila tumbuh lengkap berjumlah 20 buah, masing-masing gigi di rahang atas dan 10 gigi di rahang bawah, yang terdiri dari 4 gigi seri, 2 gigi taring, dan 4 gigi geraham. Gigi geraham pada sulung hanya satu macam, sedangkan pada gigi tetap terdapat dua macam sehingga dibedakan menjadi gigi geraham besar dan gigi geraham kecil. Jumlah gigi tetap seluruhnya 32 buah (Ismu, 2008). Saat gigi sulung tanggal, biasanya bersamaan dengan saat gigi tetap (gigi dewasa ) tumbuh, tetapi ada pengecualian gigi geraham besar. Gigi geraham besar pertama mulai tumbuh pada umur 6-7 tahun. Gigi geraham ini bukan gigi pengganti, artinya gigi ini langsung muncul pada deretan di belakang gigi – gigi sulung, baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Jadi, gigi ini ( dan juga gigi geraham besar lainnya ) tumbuh tidak menggantikan gigi sulung, sedangkan gigi lainnya, geraham kecil, taring, dan seri akan tumbuh menggantikan gigi pendahulunya ( gigi sulung ). 4. Periode Pertumbuhan Gigi Pada Anak Pertumbuhan gigi pada anak ditandai dengan pemunculan gigi pada permukaan gusi dan diikuti dengan perubahan psosisi gigi dari dalam tulang pendukung gigi untuk menempati posisi fungsionalnya dalam rongga mulut. Pada umumnya, gigi sulung pertama kali akan muncul pada usia 6 bulan sesudah lahir dan seluruh gigi sulung selesai muncul pada usia 2,5 tahun, yang ditandai dengan gigi geraham sulung kedua telah mencapai kontak dengan gigi nantagonisnya. Urutan pertama gigi sulung yang tumbuh adalah gigi seri bagian bawah (biasanya pada usia 6-9 bulan), kemudian disusul dengan gigi seri bagian atas gigi seri kedua, yaitu gigi yang tumbuh disamping gigi seri pertama akan tumbuh saat usia 7-10 bulan. Terkadang gigi seri kedua di rahang bawah tumbuh ebih dulu sebelum gigi seri kedua di rahang atas. Kemudian, satu gigi geraham depan tumbuh pada usia 16-20 bulan. Gigi taring juga mulai muncul pada usia yang sama. Gigi geraham kedua tumbuh pada usia 20-30 bulan. Pada akhirnya, akar sulung gigi erbentuk sempurna pada usia 3 tahun. Kemudian,satu persatu gigi sulung akan tanggal dan akan digantikan dengan gigi permanen yang jumlahnya 32 buah, yang dimulai saat anak berusia 5-6 tahun sampai gigi geraham bungsu muncul pada usia 19-22 tahun (Tarigan, 2004 ). 5. Penyakit Gigi Pada Anak Secara umum penyakit yang menyerang gigi dimulai dengan adanya plak gigi. Plak timbul dari sisa makanan yang mengendap pada lapisan gigi yang kemudian berinteraksi dengan bakteri yang banyak terdapat dalam mulut, seperti Streptococcus mutans. Plak akan melarutkan lapisan email pada gigi yang lama kelamaan lapisan tersebut menipis. Terjadinya plak sangat singkat, yaitu hanya 10-15 menit setelah makan. Plak yang menumpuk kemudian membentuk karies gigi yang akhhirnya merusak email hingga melubangi gigi(Besford dalam Sumarti, 2006 ). a. Penyakit Karies Gigi Karies gigi adalah suatu proses kronis, regresif yang dimulai dengan larutnya mineral email, sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari substrat (medium makanan bagi bakteri) yang dilanjutkan dengan timbulnya destruksi komponen-komponen organik yang akhirnya terjadi kavitasi (pembentukan lubang) (Schuurs, 1999 ). Sedang menurut staf pengajar Bagian Patologi Anatomi FK UI Jakarta (2003), karies gigi adalah penyakit yang terjadi karena enamel dirusak oleh berbagai asam hasil peragian hidrat arang oleh kuman Lactobacillus acidophilusatau kuman lain yang dapat membuat asam, enamel rusak pada ph 5,5 atau kurang. b. Proses Terjadinya Karies Gigi Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi, sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi (Schuurs, 1999). Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang). Kavitasi baru timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Namun kadang - kadang begitu banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang makroskopis dapat dilihat. Pada karies dentin yang baru mulai yang terlihat hanya lapisan keempat (lapisan transparan, terdiri atas tulang dentin sklerotik, kemungkinan membentuk rintangan terhadap mikroorganisme dan enzimnya) dan lapisan kelima (lapisan opak/ tidak tembus penglihatan, di dalam tubuli terdapat lemak yang mungkin merupakan gejala degenerasi cabang-cabang odontoblas). Baru setelah terjadi kavitasi, bakteri akan menembus tulang gigi. Pada proses karies yang amat dalam,tidak terdapat lapisan-lapisan tiga (lapisan demineralisasi, suatu daerah sempit, dimana dentin partibular diserang), lapisan empat dan lapisan lima (Schuurs, 1999). c. Kecepatan Proses Akumulasi plak pada permukaan gigi utuh dalam dua sampai tiga minggu menyebabkan terjadinya bersak putih. Waktu terjadinya bercak putih menjadi kavitasi tergantung pada umur, pada anak-anak satu setengah tahun,dengan kisaran enam bulan ke atas dan ke bawah, pada umur 15 tahun, dua tahun dan pada umur 21-24 tahun, hampir tiga tahun. Tentu saja terdapat perbedaan individual. Sekarang ini karena banyak pemakaian flourida, kavitasi akan berjalan lebih lambat daripada dahulu (Schuurs, 1999). Pada anak-anak, kemunduran berjalan lebih cepat dibanding orang tua, hal ini disebabkan : a. Email gigi yang baru erupsi lebih mudah diserang selama belum selesai maturasi setelah erupsi (meneruskan mineralisasi dan pengambilan flourida) yang berlangsung terutama satu tahun setelah erupsi. b. Remineralisasi yang tidak memadai pada anak-anak, bukan karena perbedaan fisiologis, tetapi sebagai akibat pola makannya (sering makan makanan kecil). c. Lebar tumbuli pada anak-anak mungkin menyokong terjadinya sklerotisa yang tidak memadai. d. Diet yang buruk Dibandingkan dengan orang dewasa, pada anak-anak terdapat jumlah ludah dari kapasitas buffer yang lebih kecil, diperkuat oleh aktivitas proteolitik yang lebih besar di dalam mulut (Schuurs, 1999 ) d. Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Karies Gigi 1. Faktor di dalam mulut yang berhubungan langsung dengan proses terjadinya karies antara lain : a) Adanya mikroorganisme Streptococcus mutans atau kuman yang mengeluarkan toxin/ racun yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Streptococcus berperan dalam proses awal karies yaitu lebih dulu masuk lapisan luar email. Selanjutnya Laktobasilus mengambil alih peranan pada karies yang lebih merusakkan gigi. Mikroorganisme menempel di gigi bersama plak. Plak terdiri dari mikroorganisme (70 %) dan bahan antar sel (30 %). Plak akan tumbuh bila ada karbihidrat, sedang karies akan terjadi bila ada plak dan karbohidrat b) Terdapatnya sisa-sisa makanan yang terselip pada gigi dan gusi terutama makanan yang mengandung karbohidrat dan makanan yang lengket seperti permen, coklat, biskuit, dll. c) Derajat keasaman saliva. Saliva berperan dalam menjaga kelestarian gigi. Banyak ahli menyatakan, bahwa saliva merupakan pertahanan pertama terhadap karies, ini terbukti pada penderita Xerostomia (produksi ludah yang kurang) dimana akan timbul kerusakan gigi menyeluruh dalam waktu singkat sekresi oleh 3 pasang kelenjar saliva besar yaitu glandula parotieda, glandula submandibularis, dan glandula sublingualis, serta beberapa kelenjar saliva kecil. Sekresi kelenjar anak-anak masih bersifat belum konstan, kerana kelenjarnya masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan. Saliva berfungsi sebagai pelicin, pelindung, penyangga, pembersih, pelarut dan anti bakteri. Saliva memegang peranan lain yaitu dalam proses terbentuknya plak gigi, saliva juga merupakan media yang baik untuk kehidupan mikroorganisme tertentu yang berhubungan dengan karies gigi. Sekresi air ludah yang sedikit atau tidak ada sama sekali memiliki prosentase karies yang tinggi Kebersihan mulut yang buruk akan mengakibatkan prosentase karies lebih tinggi (Tarigan, 2004). d) Frekuensi makan makanan yang menyebabkan karies (Makanan kariogenik). Frekuensi makan dan minum tidak hanya menimbulkan erosi, tetapi juga kerusakan gigi atau karies gigi. Konsumsi makanan manis pada waktu senggang jam makan akan lebih berbahaya daripada saat waktu makan utama . 6. Jenis Karies gigi berdasaran tempat terjadinya a. Keries Insipien Merupakan karies yang terjadi pada permukaan email gigi (lapisan terluar dan terkeras dari gigi), dan belum terasa sakit hanya ada pewarnaan hitam atau cokelat pada email. b. Karies Superfisialis Merupakan karies yang sudah mencapai bagian dalam dari email dan kadang-kadang terasa sakit. c. Karies Media Merupakan karies yang sudah mencapai bagian dentin ( tulang gigi) atau bagian pertengahan antara permukaan gigi dan kamar pulpa. Gigi biasanya terasa sakit bila terkena rangsangan dingin, makanan asam dan manis. d. Karies Profunda Merupakan karies yang telah mendekati atau bahkan telah mencapai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit secara tiba-tiba tanpa rangsangan apapun. Apabila tidak segera diobati dan ditambal maka gigi akan mati, dan untuk perawatan selanjutnya akan lebih lama dibandingkan pada karies – karies laninya. 7. Pencegahan Karries Gigi Usaha-usaha yang dilakukan untuk pencegahan karries gigi menurut (Tarigan, 1995) : a. Pemeliharaan kebersihan mulut Memelihara kebersihan mulut dengan cara menyingat gigi secara teratur dan benar sesudah makan bila tidak memungkinkan paling tidak dua kali sehari pagi dan malam sebelum tidur. b. Pengaturan pola makan Mengatur pola makan sesuai konsep empat sehat lima sempurna dan menghindari makanan yang merusak gigi yaitu makanan yang mengandung gula (kariogenik) yang melekat di permukaan gigi. c. Pemerikasaan gigi secara teratur Pemeriksaan gigi secara teratur ke puskesmas, rumah sakit, dan Dokter gig paling sedikit sebulan sekali. B. Konsep Makanan Kariogenik Makanan yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut, makanan yang lunak dan melekat pada gigi amat merusak gigi, seperti permen, cokelat, biskuit, roti, cake (Tarigan, 2004). Makanan yang lengket serta melekat pada permukaan gigi dan terselip diantara celah-celah gigi merupakan makanan yang paling merugikan untuk kesehatan gigi. Termasuk dalam golongan makanan kariogenik yaitu makanan yang dapat memicu timbulnya kerusakan adalah makanan yang kaya akan gula (Houwink, 2000). Proses metabolisme oleh bakteri yang berlangsung lama dapat menurunkan derajat keasaman (pH) untuk waktu yang lama. Keadaan seperti ini akan memberikan kesempatan yang lebih lama untuk terjadinya proses pelepasan kalsium dari gigi (determinalisasi) Gula pasir (Sukrosa) dalam makanan merupakan penyebab utama gigi berlubang. Jika makanan yang dimakan mengandung gula pasir, pH mulut akan turun dalam waktu 2,5 menit dan teatp rendah sampai 1 jam. Bila gula pasir dikonsumsi 3x sehari, artinya pH mulut selama 3 jam akan berada di bawah 5,5 Proses determinalisasi selama periode waktu ini sudah cukup untuk mengikis email. Frekuensi makan dan minum tidak hanya menimbulkan erosi, tetapi juga kerusakan gigi atau karies gigi. Konsumsi makanan manis pada waktu senggang jam makan akan lebih berbahaya daripada saat waktu makan utama. Terdapat dua alasan, yaitu kontak gula dengan plak menjadi diperpanjang dengan makanan manis yang menghasilkan pH lebih rendah dan karenanya asam dapat dengan cepat menyerang gigi. C. Konsep Frekuensi Konsumsi Gula yaitu adanya gula konsentrasi tinggi yang normal terkandung dalam makanan manis yang dikonsumsi. Untuk mengerti dengan tepat efek kebiasaan makan pada kerusakan gigi, perlu diingat kembali peranan plak pada permukaan gigi. Ketika gula dalam bentuk cairan larut pada lapisan plak, asam akan dihasilkan oleh bakteri. Juga bahwa tanpa asam tersebut, kelarutan kristal kalsium dalam gigi berlangsung sangat lama dimana gigi tidak dapat dihancurkannya atau jumlah garam kalsium yang larut dalam aliran air liur akan sebanding dengan kalsium yang keluar dari air liur dan disimpan dalam gigi. Jika ada asam, keseimbangan tadi akan terpengaruh dan lebih banyak garam yang keluar daripada yang masuk. Tetapi tetap diperlukan jumlah asam minimum yang dapat mempengaruhi keseimbangan (Besford, 1999). Keasaman diukur dalam satuan yang disebut pH. Skala pH berkisar dari 0-14, dengan perbandingan terbalik, dimana makin rendah nilai pH, makin banyak asam dalam larutan. Sebaliknya, meningkatnya nilai pH berarti bertambahnya basa dalam larutan. Pada pH 7, tidak ada keasaman atau kebasaan larutan. Air liur secara normal sedikit asam, pHnya 6,5 (dapat berubah sedikit dengan perubahan kecepatan aliran dan perbedaan waktu dalam sehari), dan plak juga hampir sama Asam harus bertumpuk di dalam plak, dan pH pada permukaan gigi harus turun sampai di bawah 5,7, sebelum keseimbangan kalsium terpengaruh dan kristal kalsium kristal mulai larut. Karenanya pH= 5,7 dianggap sebagai titik pH kritis untuk kerusakan gigi. Dugaan urutan yang terjadi pada pH plak jika seseorang mulai makan makanan yang manis : a. Gula larut dalam air liur pada pH 6,5. b. Larutan gula masuk ke dalam lapisan plak pH 6,5 c. Terjadi produksi asam segera, pH mulai turun d. Satu setengah menit kemudian pH melewati titik kritis 5,7, dan terus turun, gigi mulai mengalami kerusakan (lubang) e. Bila makanan manis terus dimakan, pH akan terus menurun, kerusakan gigi berlangsung lebih cepat, bakteri berkembang biak dan membuat perekat glukan f. Bila makanan manis telah habis, gula dalam air liur ditelan, tetapi bakteri terus bekerja dengan gula yang sudah terdapat dalam plak, dan mulai membentuk asam dari perekat glukan. pH terus turun, dan kerusakan gigi berlangsung lebih cepat g. Setelah enam menit, biasanya kandungan gula dalam plak mulai habis, dan pH mulai naik h. Setelah 13 menit, pH meningkat melampaui titik kritis, proses kerusakan gigi berhenti (waktu 13 menit adalah minimal, dapat bervariasi dan dapat lebih lama). i. Setelah 25 menit atau lebih, pH plak sama dengan pH air liur Berdasarkan urutan kejadian atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa sepotong makanan manis menghasilkan 12 menit kerusakan gigi. Segala bentuk gula bekerja seperti itu, tetapi makin banyak konsentrasi gula (melebihi batas minimum), makin banyak asam yang dihasilkan (John Besford, 1999). D. Frekuensi Menggosok Gigi 1. Frekuensi Menggosok gigi Kesehatan mulut tidak dapat lepas dari etiologi dengan plak sebagai faktor bersama terjadinya karies. Penting disadari bahwa plak pada dasarnya dibentuk terus-menerus. Kebersihan mulut dapat dipelihara dengan menyikat gigi dan melakukan pembersihan gigi dengan benang pembersih gigi. Pentingnya upaya ini adalah untuk menghilangkan plak yang menempel pada gigi. Penelitian menunjukkan bahwa jika semua plak dibersihkan dengan cermat tiap 48 jam, penyakit gusi pada kebanyakan orang dapat dikendalikan. Tetapi untuk kerusakan gigi harus lebih sering lagi. Banyak para ahli berpendapat bahwa menyikat gigi 2 kali sehari sudah cukup yang paling utama adalah sebelum tidur (Ariningrum, 2000). 2. Cara Menyikat Gigi Menyikat gigi adalah cara umum yang dianjurkan untuk membersihkan gigi dari berbagai kotoran yang melekat pada permukaan gigi dan gusi Berbagai cara dapat dikombinasikan dan disesuaikan dengan kebiasaan seseorang dalam menyikat giginya. Agar menyikat gigi dapat optimal perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut : a. Teknik penyikatan gigi yang dipakai sedapat mungkin membersihkan semua permukaan gigi dan gusi serta dapat menjangkau daerah saku gusi (antara gigidan gusi) serta daerah interdental (daerah diantara 2 gigi). b. Pergerakan sikat gigi tidak boleh menyebabkan kerusakan jaringan gusi dan abrasi gusi (ausnya gigi). c. Teknik penyikatan harus sederhana, tepat, efisien dalam waktu serta efektif). d. Cara menyikat gigi, dengan gerakan keatas lalu kebawah, kesamping kiri dan kanan dengan gerakan yang sama kemudian ditarik keluar dan pindah kebagian dalam lakukan dengan cara yang sama.