Sabtu, 26 Mei 2012

gizi balita

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kesehatan kesejahteraan manusia. Gizi seseorang dikatakan baik apabila terdapat keseimbangan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental orang tersebut. Tingkat status gizi optimal orang dewasa ditentukan pada zat gizi yang dikonsumsi pada masa kanak – kanak atau balita. ( Wiryo Hananto, 2002) Gizi pada balita dikatakan cukup apabila balita tersebut mendapatkan asupan ASI yang memadai karena ASI merupakan makanan ideal yang mengandung semua unsur gizi untuk membangun dan menyediakan energi dalam jumlah yang diperlukan sampai dengan usia 4 hingga 6 bulan (Wiryo Hananto,2002) Menurut WHO, anak tidaklah cukup hanya mendapatkan ASI saja, karena setelah usia 6 bulan anak membutuhkan MP – ASI yang tepat, baik jumlah maupun kualitasnya agar gizi tetap seimbang, karena hal tersebut dapat berpengaruh terhadap status gizi bayi. Makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B, serta vitamin dan mineral lainnya. Makanan pendamping air susu ibu ( MP – ASI) yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri dirumah. Kecendrungan pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah sering kali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan zat gizi balita karena ketidaktahuan. (http://www.kompas.co.id./30 Januari 2008 ) Lebih lanjut Supariasa,dkk (2002) mengemukakan bahwa masalah gizi pada hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor terkait. Di Indonesia masalah gizi khususnya pada balita menjadi masalah besar karena berkaitan erat dengan indikator kesehatan umum seperti tingginya angka kesakitan serta angka kematian bayi dan balita. Lebih jauh lagi, kerawanan gizi dapat mengancam kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Tak heran, menilik catatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indonesia masih berada pada peringkat 108 dari 177 negara di dunia. (Bina Diknakes,edisi maret 2008) Masalah gizi di Indonesia sampai dengan tahun 2008 ada sekitar 350 ribu dari 4 juta bayi lahir dengan berat badan rendah (BBRL) dan 5 juta dari 18 juta balita menderita gizi kurang.(Puskom Dirjen Depkes RI,2008) Masalah gizi di Indonesia dan negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh masalah Kurang Energi dan Protein (KEP), masalah Anemia Besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), masalah Kurang Vitamin A (KVA) selain itu di Indonesia masalah gizi khususnya pada balita menjadi masalah besar karena berkaitan erat dengan indikator masih tingginya angka kematian balita, utamanya setelah usia 6 bulan, karena pada usia 6 bulan persediaan zat besi yang tadinya terdapat dalam tubuh bayi yang cukup sudah mulai habis disebabkan oleh bertambahnya umur, berat badan bayi bertambah pula kebutuhannya, sehingga ASI tidak lagi menjadi makanan yang lengkap untuknya. Sekalipun masih hanya merupakan bagian yang berharga dalam diet bayi tersebut, pada usia inilah bayi telah siap dan memerlukan makanan pendamping ASI ( MP – ASI ), dalam memenuhi kebutuhan gizi bayi perlu juga diperhatikan waktu pemberian, frekuensi, porsi, pemilihan bahan makanan, cara pembuatan dan cara pemberian MP – ASI. (Depkes RI, 2005). Sehingga peranan orang tua sebaiknya memberikan perhatian khususnya tentang makanan anak. Interaksi tidak ditentukan oleh seberapa lama orang tua berinteraksi dengan anak, tetapi lebih ditentukan oleh kualitas diri interaksi tersebut yaitu pemahaman terhadap kebutuhan masing – masing dan upaya optimal untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi oleh rasa kasih sayang.( Supariasa, 2002 ). Di Propinsi Bengkulu sampai dengan akhir tahun 2007 tercatat jumlah penduduk sebanyak 1.753.761 jiwa dengan spesifikasi jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kota Bengkulu sebanyak 362.517 jiwa. Angka kejadian kasus gizi buruk di Propinsi Bengkulu tahun 2007 menunjukkan angka kasus sebanyak 39 anak balita.(Profil Kesehatan Dinkes Propinsi Bengkulu,2007). Kota Bengkulu mengadakan pemantauan status gizi pada balita dengan melakukan penimbangan terhadap 7298 balita antara usia 6-11 bulan sampai dengan 12-24 bulan. Dari balita yang rentang usianya 6-11 bulan terdapat 4 orang bayi atau 0,05% berada pada status gizi buruk, usia 12-24 bulan terdapat 10 orang bayi atau 0,13% berada pada status gizi buruk, sementara status gizi balita usia 6-11 bulan dalam kategori kurang didapat sejumlah 92 orang balita atau 1,26 %, untuk usia bayi 12-24 bulan terdapat 171 balita atau 2,34%, untuk kategori gizi baik di usia 6-11 bulan pada status gizi baik terdapat 2453 orang balita atau 33,63% dan 12-24 bulan terdapat 4349 orang balita atau 59,60% sementara 121 orang balita di usia 6-11 bulan yang berstatus gizi lebih atau 1,65% dan 98 orang anak balita usia 12-24 bulan yang terindikasi gizi lebih atau 1,34% (Dinkes Kota Bengkulu, 2007). Sementara untuk tahun 2007/2008 Puskesmas Sukamerindu melakukan penimbangan anak balita sebanyak 1612 anak balita dengan kejadian gizi buruk tidak diketemukan sementara status gizi kurang sebanyak 85 orang anak balitadan merupakan kasus tertinggi dari sejumlah wilayah Puskesmas di Kota Bengkulu, sementara gizi baik sebanyak 1364 orang dan status gizi lebih sebanyak 163 orang anak balita (Puskesmas Sukamerindu,2008) Peran aktif seorang ibu sangat dibutuhkan terutama dalam pencegahan terjadinya gangguan masalah gizi dengan cara memberikan makanan yang tepat sesuai usia dan kebutuhan bayi, semua itu ditentukan oleh motivasi dari dalam diri ibu itu sendiri agar anak tumbuh sehat. Motivasi itu sendiri merupakan tenaga penggerak dan kadang – kadang dilakukan dengan menyampingkan hal – hal yang kurang bermanfaat dalam mencapai tujuan. (Heri Purwanto, 1998) Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif dibandingkan dengan motivasi yang dipaksakan dari luar, karena kepuasan yang diperoleh oleh individu sesuai dengan porsi atau ukuran terdapat dalam diri individu itu sendiri (Winataputra dan Tita Rosita, 1995), oleh karena itu faktor motivasi instrinsik ibu sangat dibutuhkan dalam menentukan gizi pada bayi, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran faktor faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu 2008“. B. Rumusan Masalah Belum diketahui motivasi intrinsik ibu maka dengan penelitian ini ingin diketahui bagaimanakah faktor-faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu 2008. C. Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor motivasi ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) pada bayi. b. Tujuan Khusus • Untuk mengetahui gambaran faktor- faktor kebutuhan pada ibu dalam memberikan MP – ASI. • Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor pengetahuan pada ibu dalam pemberian MP – ASI. D. Manfaat Penelitian • Bagi Puskesmas Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya menangani masalah gangguan gizi. • Bagi institusi pendidikan Dapat memberikan informasi tentang MP-ASI dan status gizi bayi diwilayah Puskesmas Sukamerindu pada pendidikan Akper Sapta Bakti. • Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada peneliti yang akan datang. E. Keaslian Penelitian Berdasarkan literatur dan tinjauan kepustakaan yang dilakukan oleh peneliti, maka penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mengangkat kasus tentang motivasi yang berhubungan langsung dengan status gizi anak balita. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Definisi Motivasi Heri Purwanto (1998), mengungkapkan bahwa motivasi merupakan dorongan untuk bertidak untuk mencapai suatu tujuan juga terwujud dalam bentuk prilaku. Menurut Widayatun (1998), motivasi merupakan tenaga penggerak dan kadang-kadang dilakukan dengan penyampingan hal-hal yang dianggap kurang bermanfaat dalam mencapai tujuan. Sementara menurut Asnawi (2002) motivasi adalah pendorong seseorang dalam berprilaku dan beraktifitas dalam mencapai tujuan. B. Bentuk – Bentuk Motivasi 1. Motivasi instrinsik atau motivasi yang datangnya dari dalam diri individu itu sendiri yang tidak perlu dirangsang dari luar. 2. Motivasi ekstrinsik atau motivasi yang datang dari luar individu dan berfungsi setelah ada rangsangan dari luar.( Widayatun, 1998 ) C. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi a. Faktor Instrinsik Motivasi yang berasal dari dalam diri manusia biasanya timbul dari perilaku yang dapat memenuhi kebutuhan sehingga manusia menjadi puas. Adapun faktor – faktor dari diri manusia : a. Kebutuhan ( Needs ) Teori Maslow menyatakan kebutuhan manusia yang berjenjang atau bertingkat. Tingkat – tingkat memperlihatkan urutan kebutuhan yang harus terpenuhi dalam waktu tertentu. Suatu daya dorong atau motive tidak akan dapat mempengaruhi tindakan seseorang, bilamana kebutuhan dasar belum terpenuhi. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, maka kebutuhan yang satu dengan kebutuhan yang lain saling mempengaruhi. Tingkatan tersebut disebut dalam lima jenjang kebutuhan manusia. (Pengantar Psikologi, 1999). Teori Maslow tentang kebuthan manusia ini akan mempengaruhi dorongan atau justru dapat dikatakan bahwa urutan lajunya kebuthan manusia sama dengan berlanjutnya ke dalam jenjang motivasi seseorang. Motivasi sama dengan kebutuhan biasanya munculnya berurut N1, N2, N3, N4, N5 dan seterusnya. Motivasi sebagai motor penggerak maka bahan bakarnya adalah kebutuhan itu sendiri. ( Pengantar Psikologi, 1983 ) b. Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan satu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa dan raba. ( Notoatmodjo, 1993 ) Pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan : a) Tahu ( know ) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( recall ) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah. b) Memahami ( komprehension ) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. c) Aplikasi ( aplication ) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajarai pada situasi atau kondisi real ( sebenarnya ). d) Analisis ( analysis ) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen – komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e) Sintesis ( synthesis ) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sisntesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada. f) Evaluasi ( evaluation ) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justificasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian – penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada. 3. Faktor Ekstrinsik Motivasi yang berasal dari luar yang merupakan pengaruh orang atau lingkungan. Motivasi ini penuh dengan kekhawatiran, kesangsian apabila tidak mencapai kebutuhan. Faktor – faktor dari luar manusia : a. Sarana / Fasilitas Fasilitas adalah sarana untuk melancarkan fungsi kemunduran. sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai serbagai alat dalam pencapaian maksud dan tujuan. (Depdikbud,1999) b. Imbalan Imbalan merupakan upah sebagai jasa (honorarium) atau balasan (berupa pujian, dan sebagainya) atas tindakan yang telah dilakukan. (Depdikbud, 1999 ) c. Sosial dan Budaya Manusia merupakan makhluk biopsikososial kulturul dan spiritual. Manusia sebagai mahluk sosial dikatakan bahwa sejak lahir manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, saling membutuhkan dan saling ketergantungan, perlu sosialisasi, bergaul dan bekerjasama dengan manusia lain dalam lingkungannya. Sebagai manusia kultural bahwa manusia lahir, belajar serta berkembang dengan lingkungannya ia menganut dan membentuk budaya sesuai dengan budaya setempat. (Depdikbud, 1999) D. Proses Terjadinya Motivasi Motivasi ada atau terjadi karena adanya kebutuhan seseorang yang harus di penuhi untuk beraktifitas segera mencapai tujuan. Motivasi sebagai motor penggerak maka bahan bakarnya adalah kebutuhan atau need, terjadinya motivasi sesuai urutan yang harus dipenuhi. Faktor-faktor Rumusan Formula Teori Lingkungan ( Widayatun, 1999 ) E. Fungsi Motivasi a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. b. Menentukan arah perbuatan yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan. c. Menyeleksi perbuatan – perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan – perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. F. Definisi ASI Air susu ibu (ASI) merupakan makanan yang paling cocok untuk bayi serta memnpunyai nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat manusia atau susu hewan terutama pada bulan – bulan pertama. Sebab ASI mengandung semua gizi yang dibutuhkan untuk membangun dan menyediakan energi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal. (Supariasa, 2001). ASI suatu emulsi lemak dalam larutan protein lactase dan garam – garam organik yang disekresi oleh kedua buah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama pada bayi. Selain itu ASI juga dapat mempercepat jalinan kasih sayang antara ibu dan anak, yang penting untuk perkembangan mental dan kecerdasan anak. ASI yang pertama keluar disebut kolostrum yang mengandung zat kekebalan tubuh, vitamin A yang tinggi dan sangat baik untuk bayi. Pemberian ASI eksklusif yaitu bayi hanya diberi minum saja tanpa tambahan makanan lain diberikan sampai bayi usia 4 bulan, pemberian makanan selain ASI pada usia 0 – 4 bulan dapat membahayakan bayi karena bayi belum mampu memproduksi enzim untuk mencerna makanan selain ASI. G. Komposisi ASI a. Mengandung protein dan lemak yang paling cocok dalam jumlah yang tepat. b. Mengandung lebih banyak laktosa ( gula susu ) daripada susu lain. c. Mengandung vitamin yang cukup untuk bayi selama 6 bulan serta tidak memerlukan tambahan vitamin. d. Mengandung zat besi. Bayi yang disusui dengan baik tidak akan mengalami anemia. e. Mengandung air bagi pada iklim yang panas. f. Mengandung garam, dan fosfat dalam jumlah yang tepat Tabel 2.1. Komposisi Kolostrum dan Susu Komponen Kolostrum Susu Manusia Susu Sapi Air, gr Laktosa, gr Protein, gr Nisbah Laktat / Bumin Koserin Lemak, gr Asam Linoleat Na, mg K, mg Cl, mg Ca, mg Fosfor, mg Besi, mg Vitamin A, μg Vitamin D, μg Tiamin, μg Riboflavin, μg Asam Nikotinat, μg Asam Askorbat, μg Magnesium, mg - 5,3 2,7 - 2,9 - 92 55 117 31 14 0,09 89 - 15 30 75 44 4 8 6,8 1,2 1,2 3,8 83% lemak 15 55 43 33 15 0,15 53 0,03 16 43 172 4,3 4 88 5,0 3,3 3,1 3,7 1,6% lemak 58 13,8 103 125 100 0,10 34 0,06 42 157 85 1,6 12 ( Fisiologi Kedokteran, William F. Ganong, Edisi 17, Jakarta EGC, 1998 ) H. Definisi ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan pada bayi saat berumur 0 – 4 bulan. ASI eksklusif ini mengandung zat – zat yang sangat diperlukan bayi utnuk mendapatkan kekebalan tubuh. Terutama saat pertama kali ibu memberikan ASI yang mengandung kolostrum. (Dinkes Kota, 2008) Beberapa alasan pemberian ASI ekslusif, yaitu : a. Mudah dicerna b. Mengandung zat gizi yang berkualitas tinggi berguna untuk kecerdasan dan pertumbuhan. c. Mengandung zat kekebalan melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. d. Selalu aman dan bersih. e. Tidak pernah basi. f. Mempunyai suhu yang tepat, dapat langsung diminum. g. Menghindari bayi dari alergi dan infeksi. I. Definisi MP – ASI Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi / anak disamping ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya selain ASI setelah berumur 4 bulan. (Depkes RI, 2002) Pada umur 4 – 6 bulan bayi terus minum ASI dan mulai diperkenalkan pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI). MP – ASI berbentuk lumat atau setengah cair dan yang paling penting adalah berikan ASI dulu sebelum pemberian MP – ASI. Pada umur 6 – 9 bulan, kualitas makanan pendamping ASI perlu diperhatikan sesuai dengan umur bayi minimal 3 kali sehari. Porsi MP – ASI setiap kali makan adalah sebagai berikut : a. Pada umur 6 bulan, berikan minimal 6 sendok makan. b. Pada umur 7 bulan, berikan minimal 7 sendok. c. Pada umur 8 – 9 bulan, berikan minimal 8 – 9 sendok. Sejak umur 10 bulan makanan keluarga perlu diperkenalkan pada bayi agar pada umur 12 bulan bayi dapat makan bersama keluarga. Pemberian ASI tetap diberikan sampai berumur 2 tahun, makanan selingan yang bergizi ( bubur, kacang hijau, biscuit, pepaya / jeruk) juga perlu diberikan. J. Jenis – Jenis MP – ASI Umur 4 – 6 Bulan Bayi tetap terus diberi ASI dan mulai diperkenalkan dengan makanan pandamping ASI (MP – ASI) berbentuk makanan lumat atau setengah cair misalnya bubur saring, pisang, sari buah, sebaiknya ASI diberikan sebelum pemberian MP – ASI. Cara membuat makanan lumat : a. Bahan : 1) Dua sendok makan tepung beras (20 gr) 2) Dua sendok the gula pasir (10 gr) 3) Satu gelas susu segar atau dua sendok makan penuh susu bubuk yang telah dilarutkan kedalam satu gelas air. b. Cara membuat : 1) Tepung beras dan gula pasir dilarutkan kedalam susu. 2) Masak diatas api kecil, aduk terus menerus sampai matang. Umur 6 – 9 Bulan Bayi harus tetap terus diberi ASI dan diselingi dengan buah / sari buah. MP –ASI diberikan dalam bentuk lumat sekurang – kurangnya 3 kali sehari. Cara membuat bubur lembik (bubur kering) : a. Bahan : 1) Dua sendok makan peres beras. 2) Satu potong tempe atau tahu / kacang – kacangan / ikan / telur. 3) Sepuluh lembar daun bayam atau sayuran hijau lain 4) 2 – 3 gelas air. 5) 1 sendok makan b. Cara membuatnya : 1) Masukkan air yang telah dicampur minyak goreng atau air yang telah dicampur santan kedalam paci berisi beras, tahu / tempe / lauk pauk lain. 2) Masaklah bahan sambil diaduk sampai matang. 3) Masukkan daun bayam atau daun kangkung atau sayuran hijau lain yang telah diiris halus. 4) Setelah sayuran matang, angkat dari api. 5) Makanan siap diberikan kepada bayi. 6) Nasi tim dapat diberikan dalam bentuk lunak atau saring dan lunak atau lembik. Umur 9 – 12 Bulan Bayi terus diberi ASI sebelum MP - ASI diberikan. MP - ASI diberikan dalam bentuk lembik sekurang – kurangnya 3 kali sehari. Beri makanan selingan bergizi 1 – 2 kali sehari seperti kue bolu pandan, kue lapis, biscuit, beri buah – buahan, sari buah. Cara membuat sari buah : a. Bahan : 1 Buah jeruk manis b. Cara membuatnya : 1) Buah di cuci bersih 2) Jeruk belah dua, biji dibuang. 3) Peras airnya. 4) Taruh dalam cangkir atau mangkok kecil. 5) Berikan kepada bayi dengan menggunakan sendok kecil. Tabel 2.2. Pola Jenis Makanan Balita Umur ( Bulan ) Jenis Makanan ASI Makanan Lumat Makanan Lembik Makanan Keluarga 0 – 4 4 – 6 6 – 12 12 – 14 24 keatas K. Resiko Pemberian MP – ASI Telah diketahui umum pada saat ini bahwa bayi belum siap untuk menerima makanan semi padat sebelum berusia 4 bulan, dan juga makanan itu belum dirasakan perlu sepanjang bayi tetap mendapat ASI, kecuali pada keadaan tertentu. Kerugian atau resiko yang ditemukan segera jika bayi diberikan makanan pelengkap terlalu dini, dan ada kemungkinan terjadi dampak yang tidak diinginkan dalam jangka panjangtermasuk perannya dalam proses terjadinya keadaan patologis seperti : obesitas, hipertensi, arteriosclerosis dan alergi makanan dicurigai akan terjadi meskipun itu sangat sukar untuk dibuktikan. a. Resiko jangka pendek Telah dibuktikan bahwa pengenalan makanan selain ASI kepada diit bayi akan menurunkan frekuensi dan intensitas penyuapan bayi, yang merupakan suatu resiko terjadinya penurunan produksi ASI. Dalam kondisi seperti ini makanan yang diberikan tidak akan berperan sebagai makanan pelengkap terhadap ASI, tetapi sebagai pengganti sebagian ASI. Apabila diingat hampir semua makanan pelengkap yang diberikan mempunyai nilai gizi yang lebih rendah dari ASI, hal ini akan merugikan bayi, dan hasil yang diinginkan menjadi sebaliknya. Berdasarkan hasil observasi bahwa pengenalan serelia dan sayur – sayuran dapat mempengaruhi penyerapan zat besi dari ASI, walaupun konsentrasi zat besi itu rendah dalam ASI, tetapi lebih mudah diserap oleh tubuh bayi karena keseimbangan zat besi sangat rawan pada bayi muda. Pemberian makanan tersebut dapat menyebabkan defisiensi zat besi dan anemia. Keadaan ini sebenarnya dapat dicegah jika menggunakan bahan makanan serelia yang telah ditambahkan kandungan zat besinya. Hal ini hanya dapat mengatasi satu masalah tetapi sebenarnya tidak. b. Resiko jangka panjang Pemberian makanan tambahan yang kurang memadai dapat pula memberikan dampak negative terhadap kesehatan dalam jangka panjang, yaitu : perubahan yang dianggapsebagai penyebab sudah terjadi pada usia awal kehidupan tetapi dapat mempengaruhi terjadinya gangguan secara kronis yang dapat diketahui beberapa tahun yang akan datang. Kemudian kebiasaan makan yang mengutamakan kenyang akan berdampak terjadinya suatu gangguan kesehatan. ( A. James, 1998 ) L. Kebutuhan Gizi Kebutuhan gizi berkaitan dengan proses tubuh. a. Memberi energi Zat – zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak dan protein. Ketiga zat gizi itu termasuk termasuk ikatan organic yang mengandung karbon yang dapat dibakar. Ketiga zat gizi terdapat dalam jumlah terbanyak dalam bahan pangan. Dalam fungsi sebagai zat pemberi energi. Ketiga zat gizi tersebut dinamakan zat pembakar. b. Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh Protein, mineral dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu, diperlukan untuk membentuk sel – sel baru, memelihara, dan mengganti sel – sel yang rusak. Dalam fungsi ini ketiga zat gizi tersebut dinamakan zat pembangun. c. Mengatur proses tubuh Protein, mineral, air dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Protein mengatur keseimbangan air di dalam sel. Mineral dan vitamin diperlukan sebagai pengatur dalam proses – proses oksidasi. Fungsi normal, syaraf dan otot serta banyak proses lain yang terdapat di dalam tubuh. Dalam fungsi pengaturan proses tubuh ini, protein, mineral air dan vitamin dinamakan zat pengatur. M. Akibat Gangguan Gizi Terhadap Fungsi Tubuh a. Faktor primer Adalah bila susunan makanan seseorang salah dalam kuantitas atau kualitas yang disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya ditribusi pangan, ketidak tahuan, kebiasaan makan yang salah dan sebagainya. b. Faktor Sekunder Meliputi semua faktor yang menyebabkan zat – zat gizi tidak sampai di sel – sel tubuh setelah makanan dikonsumsi. N. Akibat gizi kurang pada proses tubuh a. Pertumbuhan Anak – anak tidak tumbuh menurut potensialnya. Protein digunakan sebagai zat pembakar, sehingga otot – otot menjadi lembik dan rambut mudah rontok b. Produksi Tenaga Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan anak kekugangan tenaga untuk bergerak, bekerja dan melakukan aktivitas. Anak menjadi malas dan merasa lemah. c. Pertahanan Tubuh Sistem imunitas dan anti bodi berkurang sehingga anak mudah terserang infeksi seperti batuk pilek dan diare. Pada anak – anak hal ini dapat membawa kematian. d. Struktur dan Fungsi Otak Otak mencapai bentuk maksimal pada usia 2 tahun. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen e. Perilaku Baik anak – anak maupun orang dewasa yang kurang gizi menunjukkan perilaku tidak tenang, mereka mudah tersinggung, cengeng dan apatis (Sunita Almatsier, 2002) BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.Desain Penelitian Desain dalam penelitian ini menggunakan jenis survey yaitu dengan cara analisa deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan untuk membuat penelitian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaraan suatu program dimana sekarang, kemudian hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut. (Notoatmodjo, 2002). Penelitian ini untuk mengetahui gambaran faktor-faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI). B. Kerangka Konsep Keterangan : : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti (Notoatmodjo, 2002) C. Defenisi Operasional Faktor-faktor motivasi intrinsik adalah suatu dorongan yang ada dalam diri ibu untuk memberikan makanan pendamping ASI (MP–ASI) untuk memenuhi kepuasan dan kebutuhan ibu dan bayi. No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur 1 Kebutuhan Adalah suatu keinginan dari ibu untuk memberikan kepuasan serta kasih sayang dengan tindakan memberikan makanan pendamping asi (MP–ASI) sesuai dengan kebutuhan dan keadaan bayi. Kuisioner ( 1 – 8 ) Tinggi ≥ 75 % jawaban responden benar. Sedang ≥ 56 % - 75 % jawaban responden benar. Kurang≤ 56 % jawaban responden benar. 0 : Salah 1 : Benar Ordinal 2 Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu tentang (MP–ASI) untuk bayi. Kuisioner ( 9 – 16 ) Tinggi ≥ 75 % jawaban responden benar. Sedang ≥ 56 % - 75 % jawaban responden benar. Kurang≤ 56 % jawaban responden benar. 0 : Salah 1 : Benar Ordinal D. Populasi dan Sampel a. Populasi Adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. (Notoatmodjo, 2002). Yang menjadi sasaran populasi dalam penelitian ini adalah ibu – ibu yang mempunyai bayi berusia dibawah 1 tahun di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2008, dengan jumlah ibu yang memiliki bayi 615 orang. b. Sampel Untuk menentukan populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000 dapat menggunakan formula yang lebih sederhana lagi seperti : n = N 1 + N (d)2 Keterangan : N : Besar populasi n : Besar sample d : Tingkat kepercayaan yang diinginkan 0,05 (notoatmojo,1993) Dari rumus diatas didapat bahwa jumlah sampel sebanyak 243 orang. Cara pengambilan sample yaitu dengan teknik simple random sampling yang berarti jumlah populasi lebih kecil dari 10.000 dapat menggunakan formula yangdisebut diatas. Dengan kriteria sampel : a. Ibu – ibu yang bisa baca tulis b. Ibu – ibu yang bertempat tingggal di wilayah kerja Puskesmas . c. Bersedia menjadi responden. d. Bersedia mengisi kuesioner. E. Tempat dan Waktu Tempat : wilayah kerja Puskesmas Suka Merindu Kota Bengkulu Waktu : 21 Juni sampai dengan 5 Juli 2008. F. Metode Pengumpulan Data Data dikumpulkan dengan kuisioner dimana jawabannya sudah tersedia dengan jumlah 16 pertanyaan dengan jawaban pilihan 4 buah ( A, B , C dan D ) dengan penilaian : 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah. G. Pengolahan dan Analisa Data a. Pengolahan Data Data yang terkumpul diolah dengan langkah – langkah pengolahan data sebagai berikut : 1. Editing Data Data yang telah dikumpulkan diperiksa segera mungkin yang mencakup : kelengkapan, kejelasan, relevansi, konsistensi jawaban. 2. Coding Memberikan kode dengan angka yang telah ditetapkan sebelumnya dan mengisi kotak – kotak yang tersedia dengan kode tersebut. 3. Recoding Melakukan kode ulang pada jawaban yang belum dikelompokkan menjadi kategori tertentu untuk memudahkan dalam analisis lebih lanjut. 4. Data Entry Memindahkan data yang telah lengkap ke komputer kedalam formulir isian yang telah disiapkan. 5. Checking dan Cleaning Data Dilakukan untuk melihat kualitas dan konsistensi jawaban. Bila ditemukan adanya jawaban yang tidak konsisten dengan pertanyaan sebelumnya maka dilakukan perbaikan seperlunya. 6. Tabulating ( Tabulasi ) Adapun langkah – langkah yang peneliti lakukan adalah : a) Menjumlahkan setiap kuisioner pada setiap alternative jawaban. b) Menghitung persentase hasil kuisioner untuk setiap alternative dengan rumus sebagai berikut : P = F X 100 % n Keterangan : P : Proporsi / jumlah persentase F : Jumlah responden setiap kategori n : Jumlah sampel ( Arikunto, 1996 ) b. Analisa Data Analisa univariat adalah menggunakan statistik deskriftif seperti ukuran tengah (mean, median, modus) dan menggambarkan faktor –faktor motivasi intrinsik ibu dalam pemberian MP – ASI di wilayah kerja Puskesmas Suka merindu tahun 2008. Untuk melihat gambaran faktor – faktor motivasi instrinsik yang mempengaruhi ibu dalam memberikan makanan pendamping ASI (MP – ASI). ∑st P = x 100 % Nr x ∑Sm ( Arikunto, 1995) Keterangan : P : Jumlah persentase Nr : Jumlah responden ∑ st : Jumlah skor total pertanyaan seluruh responden ∑ Sm : Jumlah nilai maksimum pertanyaan Setelah ada di tabulasi, selanjutnya data yang bersifat kuratif dikoreksi menjadi data kualitatif (Arikunto,1995) sebagai berikut : a. Tinggi, jika > 75 % jawaban responden benar (6-8jawaban benar) b. Sedang, jika ≥ 56 – 75 % jawaban responden benar (5 jawaban benar) c. Kurang, jika ≤ 56 % jawaban responden benar (1-4 jawaban benar) BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Gambaran Wilayah Penelitian Puskesmas Suka merindu terletak lebih kurang 1 km dari pusat kota dengan luas wilayah 9025 Km² dan jumlah penduduk 13.579 jiwa. Puskesmas Sukamerindu memiliki 25 orang tenaga petugas,antara lain 3 orang dokter umum, 1 dokter gigi, 1orang perawat giai, 3 orang bidan, 10 orang perawat, 2 orang staf tata usaha, 2 orang petugas laboratorium,1 orang petugas sanitasi dan 2 orang perawat honorer yang tersebar di setiap unit kerja Puskesmas dan mempunyai 615 jumlah bayi usia 0-1 tahun dari 14 posyandu wilayah kerja Puskesmas Suka Merindu yaitu: kembang intan, mawar, seroja, singa jaya, tiara dita, anggrek, flamboyant, sedap malam, brimob, kenangan, kemuning, delima, kembang tanjung dan nusa indah. Program pokok Puskesmas Sukamerindu antara lain, Gizi, KIA, Promkes, Kesling, P2M, Pengobatan, Jamininan Pemeliharaan Kesehatan, serta Asuransi kesehatan gratis. 2. Karakteristik Responden a. Gambaran Distribusi Responden Berdasarkan Umur Berdasarkan hasil penelitian di 14 Posyandu wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu di ketahui bahwa hampir sebagian 120 (49,60%) responden berumur 20-25 tahun, serta sebagian kecil (1,30%) rsponden berusia > 40 tahun. 2. Gambaran Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hampir sebagian responden 97 berpendidikan SD (40,00%), dan sebagian kecil (16,28%) responden yang tamat perguruan tinggi. 3. Gambaran Responden Berdasarkan Tingkat Pekerjaan Ibu Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hampir sebagian 97 (40,00%) responden bekerja sebagai IRT, dan sebagian kecil (5,87%) responden sebagai PNS 4. Gambaran Responden Berdasarkan Usia Balita Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hampir sebagian 83 (43,38%) responden berusia 5 – 8 bulan, hampir sebagian (22,33%) responden berusia 9-12 bulan dan hampir sebagian (34,29 %) responden berusia 0-4 bulan dari 243 jumlah seluruh responden. 5. Gambaran Responden Menurut Kebutuhan ibu Dalam Pemberian MP-ASI. Tabel .1 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Kebutuhan Ibu Dalam Pemberian Makanan Pendamping ASI ( MP – ASI) Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Tahun 2008. No Kriteria Frekuensi Persentase 1 Tinggi 95 39,25 2 Sedang 122 50,41 3 Kurang 25 10,34 Total 242 100 Dari tabel di atas diketahui bahwa faktor motivasi instrinsik kebutuhan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) termasuk dalam tingkat sedang dengan 50,41 % responden (sebagian besar responden mempunyai kebutuhan yang sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI)) yaitu 122 responden, 39,25% responden (sebagian kecil responden mempunyai kebutuhan tinggi dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI)) yaitu 95 responden dan 10,34% responden (sebagian kecil mempunyai kebutuhan yang kurang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI)) yaitu 25 responden dari 242 jumlah seluruh responden. 6. Gambaran Responden Menurut Pengetahuan Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Tabel 2 Distribusi frekuensi Responden Menurut Pengetahuan Ibu Dalam Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP–ASI) Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Tahun 2008 No Kriteria Frekuensi Persentase 1 Tinggi 27 11,15 2 Sedang 120 50,00 3 Kurang 95 38,85 Total 242 100 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) pada tingkat sedang dengan 50,00% responden (sebagian besar responden mempunyai pengetahuan sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 120 responden), 38.85% responden (hampir sebagian responden mempuyai pengtehuan kurang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 95 responden), 9.82% responden (sebagian kecil responden mempuyai pengetahuan tinggi dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 27 responden) dari 243 jumlah seluruh responden. Dari semua hasil penelitian di atas, yaitu dengan cara menjumlahkan semua hasil dari kebutuhan dan pengetahuan, diketahui bagaimana fsaktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) di wilayah kerja puskesmas sukamerindu tahun 2008 adalah : P = Σ ST ×100% Nr × ΣSm P = 2581 ×100% 242 × 16 P = 66,65% Keterangan : Nilai Σ ST diperoleh dari tabel master, yaitu hasil dari penjumlahan kebutuhan dan pengetahuan. Nr : Jumlah responden Σ Sm : Jumlah pertanyaan dari kuisioner Dari hasil di atas diketahui bahwa Faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI) pada balita diwilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008 termasuk sedang, yaitu 66,65%. B.PEMBAHASAN a. Pembahasan dari hasil penelitian. 1. Kebutuhan Kebutuhan merupakan hal yang sangat mendasar bagi seseorang untuk berbuat, tanpa ada faktor kebutuhan yang baik maka akan sulit bagi seseorang mengimplementasikan sesuatu yang bukan merupakan kebutuhannya. (Purwanto, 1998). Dari penelitian tentang faktor motivasi ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) di wilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008, menunjukan sebagian besar responden mempunyai faktor kebutuhan yang sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 50,41% (122 responden), sebagian kecil responden mempunyai kebutuhan tinggi dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 39,25% (95 responden), sebagian kecil mempunyai faktor kebutuhan yang kurang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 10,34% (25 responden). Menurut Maslow kebutuhan manusia merupakan pendorong atau bahan bakar seseorang melakukan sesuatu. 2.Pengetahuan Faktor pengetahuan pada hakekatnya apa yang diketahui manusia tentang objek tertentu termasuk didalamnya tentang ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui berbagai cara, baik langsung maupun tidak langsung. (Notoatmodjo, 1993). Pengetahuan merupakan salah satu faktor motivasi instrinsik yang mendorong ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) di wilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008. Dari hasil penelitian tentang pengetahuan sebagian besar responden mempunyai pengetahuan sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 50,00% (120 responden), hampir sebagian responden mempuyai pengtehuan kurang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) yaitu 38,85% (95 responden), sebagian kecil responden mempunyai pengtehuan tinggi dalam emberian makanan pendamping ASI (MP – ASI) yaitu 9,82% (27 responden) dari 242jumlah seluruh responden. Hal ini diperkuat oleh usia responden yang masih produktif yaitu hampir sebagian (49,60esponden berumur 20-25 tahun, namun demikian hampir sebagian (33,00esponden berumur 26-30, sebagian kecil (9,10 responden berumur 31-35 tahun, dan (7,00 %) responden berusia 36-40 tahun.Serta sebahagian kecil (1,30 %) responden berusia > 40 tahun. Selain kriteria kurang hampir sebagian responden memiliki pengetahuan sedang karena hampir sebagian responden berpendidikan SD (40,00%) dimana responden belum sepenuhnya mendapatkan pendidikan/pengetahuan mengenai tujuan, dan pemberian makanan pendamping ASI, namun hampir sebagian (22,72%)responden berpendidikan SLTP, dan hampir sebagian (21,00%)responden berpendendidikan SLTA serta hanya sebagian kecil (16,28%)responden yang tamat perguruan tinggi. Dilihat dari pekerjaan responden hampir sebagian (40,00%) responden bekerja sebagai IRT,dimana responden dapat memperhatikan dengan baik akan kebutuhan bayinya, hampir sebagian (29,75%) pekerjaan responden sebagai buruhi, dan sebagian kecil (24,38%) responden bekerja dibidang swasta dan sebagian kecil (5,87%) responden sebagai PNS. Di lihat dari karakteristik umur balita hampir sebagian (43.38%) responden berumur 5 – 8 bulan, hampir sebagian (22.33%) responden berumur 9 - 12 bulan dimana pada usia ini ASI tidak lagi mencukupi untuk makanan balita maka dibutuhkan makanan pendamping ASI dan hampir sebagian ( 34,29% ), responden berumur 0 - 4 bulan. Dari hasil penelitian dua variabel diatas diketahui bahwa faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) adalah sebagai berikut : kebutuhan dengan kriteria sedang (50,41%) dan pengetahuan dengan kriteria sedang (50,00%). Dapat dilihat bahwa antara pengetahuan dan kebutruhan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) diwilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008 saling mempengaruhi, jika pengetahuan seseorang itu baik maka sikap seseorang untuk memenuhi kebutuhannya juga akan baik . Kebutuhan dan pengetahuan ini sangat dipengaruhi oleh pekerjaan dan umur responden untuk mencapai hasil dan tujuan. Kebutuhan dan pengetahuan yang bersifat dinamis sesuai dengan keinginan dan perhatian manusia terhadap sesuatu dalam diri individu yang harus direspon untuk dipenuhi, sehingga individu berusaha untuk memenuhinya. Melihat fenomena diatas antara pengetahuan dan kebutuhan berbanding lurus dengan sebuah teori pengetahuan mempengaruhi kebutuhan seseorang. (Widayatun, 1999). Dan penelitian ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Dedi Sutomi yang menyatakan bahwa dalam pemberian makanan pendamping ASI juga dipengaruhi oleh faktor pendidikan ibu. Setelah semua hasil penelitian dengan faktor-faktor motivasi instrinssik ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) diwilayah kerja puskesmas Sukamerindu tahun 2008 termasuk sedang (66,65%). Dimana kriteria sedang ini termasuk masih sangat rendah karena belum mencapai 75%. Terjadinya hal ini mungkin karena alat ukur dan metode yang digunakan belum tepat serta jumlah responden yang belum memadai. b. Keterbatasan Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat faktor-faktor tentang suatu keadaan secara objektif dan lebih menekankan pada data faktual dari pada penyimpulan. Penelitian dengan cara deskriptif ini tidak mencoba untuk menganalisa bagaimana dan mengapa fenomena tersebut bisa terjadi, dan tidak dapat diketahui hubungan antar variabel maupun faktor resikonya. Populasi yang diambil adalah seluruh ibu –ibu yang mempunyai bayi yang berusia dibawah 1 tahun, sedangkan pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling. Adapun kelemahan yang ada pada metode ini yaitu dalam pengambilan sampel ini individu yang terpilih mungkin sangat tersebar, dan karena peneliti mengambil sampel pada saat posyandu, mungkin banayak sampel yang tidak datang pada saat posyandu. Alat ukur yang digunakan yaitu menggunakan lembar kuesioner yang diisi oleh responden sendiri sehingga tidak dipantau oleh peneliti, dimana kuesioner ini juga belum diuji validitas dan reliabilitasnya BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan dengan mengumpulkan data melalui pertanyaan dalam bentuk kuesioner terdapat faktor-faktor faktor motivasi instrinsik ibu dalam pemberikan makanan pendamping ASI (MP – ASI) di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu tahun 2008 dengan kesimpulan sebagai berikut : a. Dilihat dari hasil semua jawaban seluruh responden dalam menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan faktor motivasi instrinsik kebutuhan termasuk dalam kriteria sedang yaitu 50,41% (122 responden). Sebagian besar reponden mempunyai kebutuhan tinggi dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI). b. Dari hasil seluruh jawaban responden mengenai faktor motivasi instrinsik pengetahuan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP–ASI) pada balita dengan kriteria sedang yaitu 50,00% (120 responden ). Sebagian besar ibu mempunyai pengetahuan yang sedang dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) B.Saran a. Bagi Puskesmas Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai program upaya dalam menangani masalah gangguan gizi, oleh karena itu lebih disosialisasikan program – program pemberian makanan pendamping ASI (MP – ASI). b. Bagi Akademik Diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi ilmiah yang bermanfaat c. Bagi Peneliti lain Bagi peneliti lain yang akan meneliti mengenai topik yang sama perlu melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh pemberian makanan pendamping ASI pada balita yang lebih berkualitas sesuai dengan perkembangan ilmu sekarang. Sehingga nanti diharapkan ada penemuan baru yang berhubungan dengan pemberian makanan pendamping ASI dengan menggunakan metode lain . DAFTAR PUSTAKA Arikunto. (1996). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. . (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. A, James (1994). Pemberian Makanan Untuk Bayi : Dasar – Dasar Fisiologis. Jakarta: Perinasia. Asnawi,Sahlan. ( 2002 ).Teori Motivasi. Jakarta: Studra Press Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu. (2005). Profil Kesehatan Propinsi Bengkulu. Dinkes Bengkulu. Notoatmodjo. (1993). Pengantar Pendidikan Kesehatan Dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Andi Offset. . (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rhineka Cipta. Purwanto, Heri. (1998). Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC. Supariasa, I Dewa Nyoman, (2001). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC. Widayatun, TS. (1999). Ilmu Perilaku (M.A. 104 ). Jakarta: Fajar Interpratama Winata, U dan Tuti Rosita. (1995). Materi Pokok Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar